Suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan membelah keheningan subuh, mengoyak kabut tebal yang masih menyelimuti kampung kami. Di luar jendela kayu yang reyot, udara terasa menggigit kulit, menandakan pagi telah tiba dan memanggil setiap jiwa yang beriman untuk bersujud. “Man, bangun! Sudah subuh, lekas ambil air wudu!” Suara emak terdengar nyaring dari arah dapur, diiringi aroma kayu bakar dan tanak nasi yang menguar menembus bilik bambu. Kelopak mataku terasa seperti diganduli batu, sangat berat untuk dibuka setelah semalaman aku belajar di bawah cahaya lampu pelita demi ujian hari ini. Namun, ketegasan dalam suara emak berhasil mengalahkan rasa kantuk yang masih menyangkut di pelupuk mata. Dengan semangat kemandirian yang selalu diajarkan almarhum Bapak, aku menguatkan diri untuk bangkit. Kutarik handuk lusuh dari paku di dinding, lalu berlari kecil menuju tepian parit—anak sungai yang berjarak belasan langkah dari gubuk kami.

 

Sampai di bibir parit yang gelap gulita, kucoba mencelupkan ujung kaki. Uhhh, dinginnya sampai ke tulang! desahku dalam hati. Gigiku gemeretak. Air parit di jam lima pagi seolah menyimpan bongkahan es tak kasat mata. Namun, aku tahu ini adalah ujian kecil untuk menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh. Kukuatkan tekad. Begitu rasa dingin mulai menyatu dengan kulit, aku menahan napas dan menerjunkan diri sepenuhnya ke dalam air gelap itu sambil bersorak tertahan. Sensasi kejutnya langsung membangunkan setiap sel di tubuhku. Setelah mandi bercebur kilat yang menyegarkan, aku segera bergegas masuk, mengenakan sarung, dan melaksanakan ibadah sholat Subuh. Dalam sujud panjangku, aku merapal doa—sebuah wujud keimanan dan ketakwaan—meminta agar perjalananku mencari ilmu hari ini dijauhkan dari marabahaya arus Sungai Kapuas yang terkenal buas.

 

Selesai berdoa, aku bersiap-siap mengenakan seragam putih biru yang sudah memudar warnanya. Di tengah suapan cepat sarapan nasi hangat berlauk ikan asin pucuk, dari arah titian kayu depan rumah terdengar teriakan melengking. “Man, Man, Maaaann! Yok kite ke sekolah! Air pasang sudah mulai naik ini!” Itu suara Anwar, sahabat karibku yang bertubuh gempal dan selalu ceria. Kami biasa memanggilnya Nuan. Nuan adalah sosok yang pandai menyembunyikan kecemasannya di balik lelucon, sahabat yang selalu siap sedia menantang derasnya sungai bersamaku setiap pagi.

Aku menelan suapan terakhirku, mencium tangan emak, dan berlari menyambar pengayuh—dayung tua yang terbuat dari papan kayu ulin keras peninggalan kakak keduaku. Tepat pukul 05:30, di bawah langit yang masih berwarna keunguan, aku dan Nuan mulai mengayuhkan sampan kayu kami membelah anak sungai di kampung. Tangan-tangan kami yang sudah kapalan bergerak seirama, mengiris air yang berkabut. Perjalanan menelusuri anak sungai ini biasanya memakan waktu sekitar 20 menit sebelum kami tiba di muara yang berhadapan langsung dengan urat nadi kehidupan masyarakat pesisir: Sungai Kapuas.

 

Namun, hari ini firasatku mengatakan sesuatu yang berbeda. Ada bunyi kreek… kreek… yang ganjil dari dasar sampan setiap kali pengayuhku memecah air.

“Kau dengar itu, Man?” tanya Nuan, wajahnya yang bulat tampak sedikit menegang.

“Mungkin cuma ranting bakau yang tersangkut,” jawabku, mencoba menggunakan penalaran kritis untuk menenangkan diri, meski denyut jantungku mulai berdebar lebih cepat.

 

Begitu moncong sampan kami keluar dari anak sungai dan memasuki perairan Sungai Kapuas yang menghubungkan Desa Sungai Kakap dan Desa Sungai Belidak, mimpi buruk itu menjadi nyata. Kami berhadapan langsung dengan air pasang yang sedang memuncak. Arus sungai begitu kencang, menggulung dengan buih-buih kecokelatan yang membawa serpihan kayu dan sampah dari hulu. Sampan kami terombang-ambing hebat. Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari bawah tempat duduk Nuan. Air sungai sedingin es menyembur masuk melalui celah papan yang jebol!

“Bocor, Man! Bocor besar! Kita mau sekolah atau mau latihan tenggelam ini?!” teriak Nuan panik, namun masih sempat menyisipkan humor khasnya meski suaranya bergetar.

 

Risiko di depan mata sangat fatal. Jika kami tenggelam, tas berisi buku-buku yang kami bungkus plastik akan hancur, dan kami tidak bisa mengikuti ujian kelulusan hari ini. Lebih dari itu, arus bawah Kapuas bisa menyeret kami ke dasar berlumpur. Ketakutan merayap di dadaku, namun aku tidak boleh menyerah. Di sinilah kemampuan kolaborasi kami diuji hingga batas maksimal.

“Nuan, kau ambil gayung plastik itu, timba airnya secepat mungkin! Aku yang akan mengayuh sekuat tenaga ke arah akar-akar pohon nipah di pinggir supaya kita terhindar dari arus pusaran utama!” teriakku, membangun komunikasi yang tegas di tengah gemuruh air.

 

Kami bekerja bahu-membahu. Nuan menimba air seperti orang kesetanan, sementara otot-otot lenganku menjerit saat mendayung melawan arus yang brutal. Air terus masuk. Dengan kreativitas yang lahir dari keputusasaan, aku menarik segumpal tanah liat dari tepian rawa yang kami lewati, mencampurnya dengan dedaunan kering, dan menyuruh Nuan menyumpalkannya ke celah kayu yang bocor itu sambil menekannya dengan telapak kakinya. Cara darurat itu berhasil memperlambat masuknya air.

 

Setelah 40 menit pertarungan hidup dan mati yang menguras seluruh tenaga, moncong sampan kami akhirnya menabrak dermaga kayu Pasar Kakap. Kami berdua roboh terlentang di atas papan sampan, napas kami tersengal hebat, seragam kami basah kuyup oleh keringat dan cipratan sungai. Namun, kami selamat. Kami telah menunjukkan jiwa kewargaan yang tangguh—anak-anak pesisir yang tidak pernah tunduk pada kerasnya alam demi menuntut ilmu.

Sambil mengatur napas, Nuan menggeser kakinya dari sumpalan tanah liat tadi. Matanya tiba-tiba melotot. “Man… lihat ini. Yang merobek sampan kita bukan batang kayu.” Nuan menarik sesuatu yang tersangkut kuat di retakan dasar sampan kami.

 

Sebuah tabung silinder kecil dari kuningan yang sudah menghitam karena karat, padat dan sangat berat. Benda itu pastilah tersangkut di dasar lumpur dekat rumahku dan merobek lambung sampan saat air pasang mengombang-ambingkan kami. Tanpa banyak bicara, aku memasukkan tabung misterius itu ke dalam tas pungkungku. Waktu tidak menunggu. Kami harus segera melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 30 menit menuju SMP Negeri Sungai Kakap.

 

Kami tiba di sekolah saat bel panjang baru saja berhenti berdering. Sekujur tubuh kami basah dan kotor. Namun, karena kami masuk di tahun 1992, di mana SMP Negeri Sungai Kakap adalah satu-satunya sekolah negeri di kawasan itu, para guru memiliki empati yang luar biasa. Terlambat datang dengan kondisi acak-acakan karena harus menantang maut di atas sampan adalah hal yang biasa bagi anak-anak pesisir. Kakakku dan teman-temannya dulu juga mengalami nasib yang sama. Guru-guru memaklumi dan menyuruh kami bergegas membersihkan diri sebelum ujian dimulai.

Ujian berlangsung menegangkan, tetapi fokusku berulang kali terpecah pada tabung kuningan yang terasa memberat di dalam tasku. Saat jam istirahat tiba, aku menarik Nuan ke belakang perpustakaan sekolah yang sepi. Dengan tangan gemetar, aku memutar tutup tabung kuningan tersebut. Berkat penutup karetnya yang masih rapat, isi di dalamnya kering kerontang.

 

Aku menarik keluar sebuah gulungan kertas kalkir tebal yang sudah menguning. Saat aku membentangkannya, Nuan menahan napas. Itu bukan peta harta karun berisi emas atau perhiasan. Itu adalah sebuah cetak biru, gambar rancang bangun sebuah kapal layar perpustakaan raksasa yang sangat detail, lengkap dengan kode-kode rahasia. Di sudut kanan bawah cetak biru tersebut, terdapat sebuah stempel merah berlogo jangkar dengan tulisan tegak bersambung yang sangat rapi: “Proyek Literasi Pesisir: Sampan 62 – Kubu Raya”.

 

“Apa ini, Man? Sampan 62?” bisik Nuan bingung.

Sebelum aku bisa menjawab, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi kertas di tangan kami. Langkah kaki yang tenang namun berat terdengar mendekat dari balik rak buku tua yang dibuang di belakang gedung. Kami mendongak serentak, jantungku kembali berdegup kencang seperti saat menghadapi arus pasang Kapuas subuh tadi.

 

Seseorang dengan jas panjang usang dan topi fedora hitam menatap kami dari balik bayangan atap. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit yang dipenuhi bekas luka.

“Kau membawa benda yang bukan milikmu, Anak Muda,” suara berat pria itu mengalun rendah, nyaris seperti geraman ombak. “Tabung itu… adalah kunci untuk membuka rahasia yang telah tertidur selama tiga puluh tahun di dasar Sungai Kapuas.”

 

Pria itu melangkah maju, memutus jalan keluar kami. Angin tiba-tiba berembus kencang, menerbangkan debu-debu kering di sekitar kami, sementara tabung kuningan di tanganku seolah mendadak terasa sedingin es.

 

Angin berembus membawa bau apak kertas tua dan debu, menyapu wajahku yang seketika pias. Sosok tinggi berjas panjang itu melangkah maju, memutus satu-satunya jalan keluar kami dari lorong sempit di belakang perpustakaan SMP Negeri Sungai Kakap. Tangan kirinya yang terbungkus sarung tangan kulit penuh bekas luka masih terulur, meminta tabung kuningan yang kini kugenggam erat hingga buku-buku jariku memutih. Di sebelahku, kudengar napas Nuan tertahan. Tubuh gempalnya sedikit gemetar, tapi ia menggeser posisinya, setengah menghalangiku dari pria asing itu. Sebuah naluri kolaborasi dan kesetiakawanan yang tak perlu diucapkan.

“Kalian tidak tahu bahaya apa yang sedang kalian pegang,” suara pria itu kembali terdengar, rendah dan serak, seperti gesekan lambung kapal pada karang. Matanya yang tajam menatap lurus ke arahku dari balik bayangan topi fedoranya.

 

Naluri kemandirianku meronta. Almarhum Bapak selalu mengajarkan untuk tidak mudah menyerahkan apa yang menjadi tanggung jawab kita, apalagi pada orang asing yang muncul dari balik bayangan. Kutarik napas panjang, mencoba mengatur ritme oksigen ke paru-paru agar tidak pingsan karena panik—sebuah usaha menjaga kesehatan mental dan fisik di saat krisis. Dengan penalaran kritis yang berputar cepat, aku menyadari satu hal: pria ini tidak menyerang kami, ia bernegosiasi. Jika ia mau, dengan postur sebesar itu, ia bisa saja merebutnya secara paksa sejak tadi.

 

“Siapa Bapak? Dan kenapa kami harus memberikan benda yang kami temukan di sampan kami sendiri?” balasku, suaraku sedikit bergetar namun berusaha kutegaskan. Komunikasi adalah satu-satunya senjataku saat ini.

Pria itu terdiam sejenak. Sudut bibirnya yang tertutup bayangan tampak sedikit terangkat. “Nyali anak pesisir memang selalu menarik,” gumamnya. Perlahan, ia membuka topi fedoranya, memperlihatkan wajah yang dipenuhi gurat-gurat usia dan sebuah codet melintang di atas alis kirinya. “Namaku Ibrahim. Dan benda di tanganmu itu bukan sekadar cetak biru biasa. Itu adalah detak jantung pendidikan dan kelestarian alam di Kubu Raya.”

 

Nuan mendengus pelan, keberaniannya mulai kembali, memunculkan humor yang selalu menjadi tamengnya. “Detak jantung macam apa yang sembunyi di dasar sungai berlumpur, Pak? Jantung ikan patin?”

Pak Ibrahim mengabaikan kelakar Nuan. Ia menatap ke arah gulungan kertas kalkir yang masih setengah terbuka di tanganku. “Cetak biru itu adalah rancangan Sampan 62. Di tahun 1962, sekelompok guru dan pejuang lingkungan merancang sebuah kapal perpustakaan keliling sekaligus laboratorium air. Tujuannya bukan hanya membawa buku ke pelosok anak sungai, tapi juga untuk memetakan dan melindungi hutan mangrove serta ekosistem gambut dari para perambah kayu ilegal. Mereka percaya, pendidikan dan alam adalah hasil bumi yang paling berharga untuk dijaga, bukan sekadar kayu yang ditebang.”

Kata-katanya menembus relung hatiku. Sebagai anak yang setiap hari berhadapan dengan pasang surut Sungai Kapuas, aku tahu betapa pentingnya menjaga akar bakau agar kampung kami tidak tenggelam oleh abrasi. Kesadaranku sebagai warga negara—sebuah kewargaan yang utuh—terbangkitkan. Ini bukan lagi soal bocornya sampanku pagi tadi; ini soal sejarah dan masa depan kampung halaman kami.

 

“Lalu kenapa benda ini bisa ada di dasar sungai?” tanyaku penasaran.

“Karena proyek itu disabotase,” rahang Pak Ibrahim mengeras, matanya memancarkan kepedihan masa lalu. “Para perambah hutan tidak ingin masyarakat pesisir menjadi pintar. Mereka tidak ingin kita paham cara melindungi alam. Sampan 62 yang asli disembunyikan di suatu tempat sebelum sempat dihancurkan. Tabung itu menyimpan petanya. Para komplotan itu masih mencarinya sampai sekarang. Jika jatuh ke tangan mereka, bukan hanya sejarah yang musnah, tapi hutan mangrove kita akan habis dibabat tanpa sisa.”

 

Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik daun kering dari arah semak-semak di balik pagar sekolah. Pak Ibrahim menoleh dengan waspada. “Kita tidak aman di sini. Cepat, lihat sudut kiri bawah cetak biru itu. Ada deretan huruf acak. Kalian anak sekolah, gunakan otak kalian. Apa sandi pembukanya?”

Aku dan Nuan segera menunduk, menatap kertas kalkir yang sudah menguning itu. Benar saja, di bawah logo jangkar, terdapat deretan huruf yang diacak menggunakan sandi substitusi sederhana. Kreativitas dan ingatanku kembali pada pelajaran kepramukaan minggu lalu. Aku menggeser huruf-huruf itu dalam kepalaku.

 

“A-S-E-S-M-E-N P-E-M-B-E-L-A-J-A-R-A-N,” ejaku pelan. “Asesmen Pembelajaran?”

Mata Pak Ibrahim berbinar. “Tepat! Itu adalah inti dari segalanya. Evaluasi untuk belajar, bukan hanya untuk nilai.” Ia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening dari saku jasnya, lalu meneteskannya perlahan ke atas deretan huruf yang baru saja kubaca.

 

Sebuah keajaiban terjadi di depan mata kami. Cairan itu bereaksi dengan tinta kuno pada kertas kalkir. Perlahan, garis-garis tipis berwarna kemerahan muncul dari ruang kosong di tengah cetak biru, membentuk sebuah peta jalur sungai yang sangat spesifik. Peta itu menunjukkan aliran anak sungai rahasia yang membelah hutan mangrove pekat, mengarah ke sebuah titik buta yang tak pernah tercatat di peta Kabupaten Kubu Raya manapun. Di titik itu tergambar sebuah simbol jangkar yang dikelilingi akar bakau.

“Itu lokasinya,” bisik Pak Ibrahim, suaranya dipenuhi haru. “Di hulu Sungai Kakap, tersembunyi di balik rawa gambut terdalam.”

 

Bel tanda masuk kelas tiba-tiba berbunyi nyaring, mengagetkan kami semua. Pak Ibrahim menatapku lekat-lekat. “Simpan peta itu. Jangan tunjukkan pada siapa pun. Malam ini, saat bulan purnama naik tepat di atas pucuk kelapa, temui aku di dermaga tua muara Kapuas. Kita akan mencari Sampan 62.”

Tanpa menunggu jawabanku, pria itu berbalik dan menghilang di balik dinding perpustakaan dengan gerakan yang luar biasa cepat dan tanpa suara, meninggalkan aroma apak yang perlahan memudar ditiup angin.

 

Aku menatap Nuan. Sahabatku itu menelan ludah, wajah konyolnya lenyap tak berbekas. Kami baru saja menyelesaikan ujian matematika, tapi kini kami dihadapkan pada ujian hidup yang sebenarnya. Dalam diam, aku memanjatkan doa singkat, memohon perlindungan dari Sang Maha Kuasa.

Malam itu, setelah emak tertidur pulas, aku mengendap-endap keluar dari gubuk. Udara pesisir terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Nuan sudah menungguku di dermaga dengan wajah tegang, memegang senter usang yang cahayanya temaram. Bayangan pohon nipah di seberang sungai tampak seperti cakar raksasa yang siap menerkam kami. Namun, Pak Ibrahim tidak ada di sana.

 

Sebaliknya, dari arah tikungan sungai, muncul sebuah perahu motor hitam panjang yang mematikan lampunya. Mesinnya menderu halus, membelah air tanpa buih. Di atas perahu itu, berdiri tiga sosok pria bertubuh kekar, dan salah satu dari mereka memegang sebuah tabung kuningan yang bentuknya sangat identik dengan milikku.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Jika tabung yang asli ada di dalam tasku, lalu apa yang mereka pegang? Dan di mana Pak Ibrahim? Belum sempat aku berpikir, lampu sorot yang sangat menyilaukan dari perahu hitam itu tiba-tiba menyala, menembak tepat ke arah wajah kami yang mematung di ujung dermaga kayu yang rapuh.

Cahaya lampu sorot dari perahu hitam itu menyilaukan mata, membakar retina dan memaksa kami mengangkat tangan untuk menutupi wajah. Suara deru mesin perahu yang tadinya halus kini menggeram kasar, memecah keheningan muara Kapuas. “Serahkan peta aslinya, Bocah! Tabung yang ini kosong!” teriak salah satu pria berbadan kekar dari atas perahu. Suaranya menggema, memantul di antara rimbunan pohon nipah yang berjajar bagai raksasa tak berwajah di seberang sungai.

Jantungku memukul-mukul rongga dada bagai genderang perang. Kepanikanku memuncak, namun di saat yang sama, otakku dipaksa bekerja di luar batas wajar. Mereka tahu tabung kuningan yang mereka pegang hanyalah pancingan. Nuan, yang biasanya banyak bicara, kini membeku di sampingku. Namun, di bawah tekanan yang bisa merenggut nyawa ini, naluri bertahan hidup kami mengambil alih. Dengan penalaran kritis yang terasah oleh kerasnya alam pesisir, aku menyadari satu hal: perahu motor sebesar itu memiliki draf lambung yang dalam. Di muara yang airnya mulai surut ini, mereka tidak bisa menepi terlalu dekat ke dermaga kayu yang dangkal dan penuh sisa tonggak ulin.

 

“Nuan, karung terasi!” bisikku cepat, merujuk pada karung goni berisi sisa udang rebon busuk milik nelayan yang diletakkan di ujung dermaga.

Komunikasi tanpa kata terjadi di antara kami. Nuan mengangguk kilat. Menggunakan kreativitas dan tenaga yang didorong oleh adrenalin murni, Nuan menendang tumpukan kaleng berkarat ke arah air sebagai pengalih perhatian, sementara aku menyambar karung terasi busuk itu dan melemparkannya sekuat tenaga tepat ke arah lampu sorot mereka. Brak! Kaca lampu itu pecah berantakan bersamaan dengan bau busuk yang menyengat udara. Kegelapan kembali menelan kami.

“Terjun!” teriakku.

 

Kami berdua menerjunkan diri ke dalam air Kapuas yang sehitam tinta. Air es seketika membungkus tubuhku, membekukan pori-pori. Kami menahan napas, menyelam di bawah tiang-tiang dermaga yang dipenuhi teritip tajam. Menjaga ketenangan di dalam air keruh adalah kunci agar paru-paru tidak kemasukan air—sebuah prinsip kesehatan dasar yang selalu diajarkan anak-anak pesisir. Di dalam air yang pekat, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram kerah seragamku dari belakang dan menarikku ke permukaan di sisi lain dermaga, tepat di bawah bayangan rimbunan pohon bakau yang lebat.

 

Aku meronta, bersiap memukul, hingga sebuah suara serak berbisik tajam di telingaku. “Tenang. Ini aku.”

Itu Pak Ibrahim. Ia berada di atas sebuah sampan kayu kecil yang disamarkan dengan dedaunan nipah. Ia menarikku dan Nuan yang terengah-engah naik ke atas sampannya dengan tenaga yang luar biasa. Tanpa suara, ia mendayung sampan itu masuk ke dalam celah akar-akar bakau yang sangat sempit, tepat ketika para preman di perahu hitam tadi memaki-maki dan menyalakan senter mencari kami di air.

“Tabung yang mereka pegang… itu perbuatan Bapak?” tanyaku dengan napas memburu, menggigil kedinginan.

 

Pak Ibrahim tersenyum tipis, sebuah raut kepuasan terlukis di wajahnya yang penuh bekas luka. “Itu tabung duplikat yang sengaja kutinggalkan di rumah lamaku yang sudah mereka awasi. Aku butuh mengalihkan perhatian mereka agar kita punya cukup waktu. Kau bawa petanya?”

Aku mengangguk, menepuk tas pungkungku yang basah di bagian luar namun dalamnya telah kulapisi plastik tebal. Kolaborasi kami malam ini benar-benar membuahkan hasil. “Bagus,” lanjut Pak Ibrahim. “Sekarang, kita harus mendahului mereka. Hutan gambut di depan kita ini menyimpan gas alam yang beracun jika dihirup terlalu lama, dan nyamuk rawa bisa membawa demam mematikan. Pakai minyak serai ini ke leher dan tangan kalian.” Ia menyodorkan botol kecil. Menjaga kesehatan di medan seganas ini bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan agar kami tidak tumbang sebelum misi selesai.

 

Perjalanan menembus rawa gambut itu terasa seperti melintasi dimensi lain. Udara berbau belerang dan tanah basah. Hanya ada suara kayuhan pelan dan dengingan serangga malam. Pak Ibrahim mengajari kami cara membaca rasi bintang Pari untuk mencocokkan arah dengan peta kalkir yang kami temukan. Ini adalah pengetahuan navigasi kuno yang menunjukkan kemandirian luar biasa tanpa bergantung pada teknologi modern. Nuan yang sedari tadi tegang akhirnya memecah kesunyian. “Kalau kita selamat dari sini, Man, aku bersumpah tidak akan pernah lagi mengeluh soal ulangan matematika. Lebih baik kepalaku berasap karena angka daripada digigit nyamuk sebesar jempol ini,” bisiknya, memancing tawa kecil dariku dan meredakan ketegangan yang mencekik.

 

Dua jam mengayuh dalam keheningan, sungai semakin menyempit hingga akhirnya tertutup sepenuhnya oleh kanopi daun nipah raksasa. Namun, Pak Ibrahim tidak berhenti. Ia menabrakkan sampan kami ke dinding dedaunan itu. Ternyata, itu hanyalah tiruan alam. Di baliknya, tersembunyi sebuah danau kecil di tengah hutan mangrove yang airnya tenang bagai cermin, memantulkan cahaya bulan purnama.

Di tengah danau itu, sebuah struktur kayu besar bersandar damai, dililit tanaman rambat berbunga putih. Jantungku berdegup kencang. Itu dia. Sampan 62.

Ukurannya jauh lebih besar dari sampan biasa, lebih menyerupai rumah apung dengan atap sirap kayu ulin. Kami merapat. Dengan tangan gemetar, Pak Ibrahim membuka pintu kayu yang sudah berderit. Saat cahaya senter menyapu bagian dalam, aku dan Nuan terbelalak. Ruangan itu tidak berisi harta karun bajak laut, melainkan ratusan buku yang disimpan rapi dalam kotak kaca kedap udara, mikroskop kuno berlapis debu, tabung-tabung reaksi, dan rak-rak kayu berisi jurnal tulisan tangan.

 

Aku membuka salah satu jurnal yang sampulnya terbuat dari kulit kayu. Di dalamnya berisi catatan detail mengenai sistem ekologi sungai, cara mencegah abrasi, dan peta letak sumber daya alam hayati. “Mereka bukan mencari emas,” gumamku takjub, menyadari kebesaran visi para pendahulu kami. “Mereka meneliti hasil bumi dan cara melindunginya agar kelak bisa dikelola oleh masyarakat kita sendiri tanpa dirusak oleh perusahaan tamak.”

“Tepat,” jawab Pak Ibrahim dengan mata berkaca-kaca. “Para perambah itu mencari catatan ini untuk menghancurkannya. Data di sini membuktikan bahwa lahan pesisir Kubu Raya ini adalah zona konservasi mangrove dan gambut yang tidak boleh digarap oleh industri besar. Jika catatan ini sampai ke pengadilan, izin operasi perusahaan mereka akan dicabut permanen.”

 

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan bergema dari luar. Kami menoleh ke arah jendela kapal. Perahu motor hitam tadi rupanya berhasil mengikuti jejak riak air sampan kami. Tiga preman itu berdiri di ujung dek, menodongkan senjata tajam.

“Kerja bagus, Pak Tua. Kau benar-benar menuntun kami ke gudang sampah sejarah ini,” seringai pria yang paling besar. “Sekarang serahkan jurnal-jurnal itu, atau kami akan membakar kapal rongsok ini bersama kalian di dalamnya.”

Konflik memuncak ke titik kritis. Risiko kehilangan nyawa dan lenyapnya sejarah berharga ada di depan mata. Namun, aku tidak takut. Keimanan dan ketakwaanku berbisik kuat bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya. Aku menatap Nuan dan Pak Ibrahim, mengirimkan isyarat mata ke arah tuas jangkar berkarat yang menahan Sampan 62 ke dasar lumpur.

 

Dengan kecepatan penuh, aku berteriak, “Nuan, sekarang!”

Nuan menerjang tuas pengunci jangkar, memukulnya dengan balok kayu. Bersamaan dengan itu, Pak Ibrahim melempar lampu minyak yang masih menyala ke arah tumpukan gas rawa yang menyembur dari gelembung gambut di sisi perahu hitam tersebut. Api berkobar menyambar gas sesaat, menciptakan ledakan kecil yang membutakan mata ketiga preman itu. Sampan 62, yang kini terbebas dari jangkarnya, terdorong arus air danau yang berputar deras. Para preman itu mencoba mengejar, namun baling-baling mesin mereka tersangkut hebat di akar-akar tunjang pohon bakau yang sangat rapat—sebuah jebakan alam yang sudah kuperhitungkan sebelumnya berkat penalaran kritis mempelajari pasang surut air.

 

Kami berhasil lolos, membawa Sampan 62 mengalir keluar menyusuri arus ke arah desa dengan jurnal-jurnal bukti yang aman di tangan kami.

Keesokan paginya, matahari terbit membawa harapan baru. Laporan Pak Ibrahim ke pihak berwajib dengan membawa bukti-bukti otentik dari jurnal tersebut langsung menghentikan operasi ilegal korporasi perusak hutan. Preman-preman itu ditangkap saat perahu mereka masih terjebak di akar bakau.

 

Sebulan setelah kejadian menegangkan itu, Sampan 62 tidak lagi menjadi rahasia yang terkubur di dasar hutan. Kapal itu ditarik ke pusat desa dan dipugar oleh warga dengan semangat gotong royong. Ia kini bukan hanya monumen sejarah, melainkan perpustakaan digital pertama di sekolah kami, mengubah cara belajar ratusan anak pesisir.

 

Aku berdiri di geladak Sampan 62, menatap aliran Sungai Kapuas yang berkilauan ditimpa cahaya matahari. Nuan menepuk bahuku sambil tertawa menceritakan kembali kisah kepahlawanan kami kepada anak-anak kelas satu yang duduk melingkar. Misi ini mengajarkan kami bahwa menjadi Generasi Emas bukan sekadar mencetak nilai tinggi di atas kertas. Ia adalah tentang keberanian melindungi warisan alam, keluhuran budi sebagai warga negara, dan keteguhan iman yang tak tergoyahkan oleh badai. Sejarah panjang sungai ini telah membuktikan, sejauh apa pun kita berlayar, kita harus selalu tahu cara menjaga dermaga tempat kita pulang.