Bau busuk yang menyengat langsung menyerang rongga hidung Ali begitu ia melangkah keluar dari pagar rumahnya. Anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu segera menarik kerah kaus berkerahnya untuk menutupi hidung, matanya menatap horor pada lumpur hitam pekat yang menggenang di parit utama Gang Literasi. Pagi itu, matahari bersinar terik menyengat kulit, memantulkan cahaya dari layar gawai keluaran terbaru yang sedari tadi tak lepas dari genggaman Ali. Sepatu sneakers putih edisi terbatasnya melangkah sangat berhati-hati, menghindari cipratan air kotor yang bisa menghancurkan mood-nya seharian penuh.

Hari Minggu di Gang Literasi bukanlah hari untuk bermalas-malasan. Sejak jam delapan pagi, deru napas dan suara cangkul yang beradu dengan batu sudah memecah keheningan. Ryan, remaja bertubuh jangkung yang selalu menjadi motor penggerak, tengah memberi komando. Keringat membasahi kausnya saat ia bersama Kiki mencabuti rumput liar dan menggemburkan tanah di taman depan rumah Pak RT. Mereka bekerja dengan harmoni, sebuah kolaborasi yang indah. Namun, pemandangan itu tak membuat Ali tertarik untuk bergabung. Ia lebih suka dunia digitalnya yang rapi, bersih, dan bisa dikendalikan.

Di sudut lain yang lebih suram, tepat di mulut gorong-gorong yang menghubungkan saluran air gang dengan anak Sungai Kapuas, Andi dan Ari sedang menghadapi mimpi buruk. Tumpukan sampah plastik, ranting mati, dan entah limbah apa lagi menyumbat aliran air. Bau menyengat menguar dari air limbah yang bergolak.

“Wah, kita tidak bisa mengangkat sampah sebanyak ini berdua, Ri,” keluh Andi, napasnya memburu. Urat lehernya menonjol saat ia berusaha menarik sebuah karung goni basah yang tersangkut di bibir gorong-gorong. Kesehatannya bisa terancam jika terus menghirup gas metana dari selokan ini, namun tanggung jawab kewargaannya menolak untuk menyerah.

Ari, yang selalu berwajah tenang, mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju. Matanya menangkap sosok Ali yang sedang berdiri di trotoar yang bersih, asyik menggulir layar gawainya sambil sesekali mengibaskan tangan mengusir lalat.

“Ali!” panggil Ari setengah berteriak. “Bisa tolong bantu kami sebentar? Karung ini terlalu berat, kita butuh satu tenaga lagi untuk menariknya pakai bambu!”

Ali mendongak. Ia melihat ke arah Ari, lalu menatap air selokan yang hitam, berbusa, dan dipenuhi belatung. Wajahnya seketika pucat. Konflik internal berkecamuk di dadanya. Ada rasa bersalah yang mencubit nuraninya, namun fobianya terhadap kotoran dan kuman jauh lebih besar menjajah pikirannya.

“Tidak! Aku tidak mau,” tolak Ali cepat, melangkah mundur hingga punggungnya menempel ke tembok. “Di situ airnya kotor dan bau, Ri. Sepatuku bisa hancur, dan… dan tanganku bisa gatal-gatal. Jijik!”

Mendengar penolakan itu, darah Andi mendidih. “Hei, Tuan Muda!” bentak Andi, melempar cangkulnya ke tanah hingga memercikkan lumpur. “Kau pikir kami ini suka berendam di air got?! Ini kampung kita bersama! Kalau hujan turun siang ini, air Kapuas pasang, perpustakaan Saung Literasi kita bakal kebanjiran gara-gara sampah ini!”

Ali terdiam, menunduk. Kemampuan komunikasinya lumpuh di bawah tekanan. Ia tahu Andi benar, tapi kakinya seolah dipaku ke aspal. Ari segera menahan lengan Andi, menunjukkan kematangan emosional dan kesabaran yang luar biasa. “Sudah, Ndi. Jangan emosi. Memaksa tidak akan menyelesaikan masalah. Biar aku minta tolong Ryan saja.”

Ari berbalik meninggalkan Ali yang mematung dengan rasa malu yang mulai menggerogoti harga dirinya. Ryan, tanpa banyak bicara, langsung meletakkan gunting tamannya dan terjun ke selokan membantu mereka berdua.

Sementara itu, aroma harum bumbu kuning dan serai yang ditumis mengudara dari arah dapur rumah Bu Asih, menciptakan kontras yang tajam dengan bau selokan di luar. Ani dan Tia tertawa renyah sambil memotong tempe dan menata gelas-gelas kaca. Mereka bekerja bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran penuh bahwa kemandirian sebuah komunitas dibangun dari saling melayani. Setiap irisan bawang adalah bentuk cinta dan dukungan moral bagi para pemuda yang sedang bertarung melawan kotoran di luar sana.

Menjelang siang, cuaca pesisir yang tadinya terik tiba-tiba berubah drastis. Awan hitam pekat bergulung dari ufuk barat Kapuas. Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering. Hujan badai turun tanpa peringatan.

Kepanikan melanda Gang Literasi. Air hujan yang lebat seketika memenuhi selokan. Karung goni besar yang sedari tadi coba ditarik oleh Ryan, Andi, dan Ari kini semakin terjepit oleh derasnya arus dari hulu. Air selokan yang hitam mulai meluap, merayap naik ke jalan aspal, berjarak hanya beberapa meter dari rak-rak kayu Saung Literasi tempat buku-buku sumbangan dan tablet belajar mereka disimpan. Risiko kini mencapai puncaknya.

“Tarik! Tarik terus!” teriak Ryan, kakinya tergelincir di bibir selokan yang licin.

Dalam kekacauan itu, musibah terjadi. Tanah pijakan Andi longsor. Remaja temperamental itu terperosok ke dalam gorong-gorong. Kaki kanannya terjepit kuat di antara dinding beton dan karung goni raksasa yang menahan aliran air.

“Tolong! Kakiku terjepit! Sakit!” jerit Andi, air kotor menampar wajahnya.

Ryan dan Ari panik. Tenaga mereka tak cukup kuat untuk menarik Andi melawan derasnya arus air yang terus naik.

Ali, yang sedari tadi berteduh di teras, menyaksikan semuanya dengan mata terbelalak. Gawai di tangannya nyaris terjatuh. Jantungnya berdegup gila. Jika air terus naik, Andi bisa tenggelam, dan perpustakaan kebanggaan mereka akan hancur. Ketakutannya pada kotoran tiba-tiba terasa begitu konyol dibandingkan nyawa temannya dan masa depan komunitas mereka.

Tanpa berpikir dua kali, Ali membuang gawainya ke kursi. Ia berlari menembus hujan badai, melompat langsung ke dalam selokan yang hitam dan menjijikkan itu. Sneakers putihnya tenggelam dalam lumpur.

“Ali! Apa yang kau lakukan?!” teriak Ari tak percaya.

“Bantu aku!” balas Ali. Penalaran kritisnya yang terasah dari buku-buku sains di Saung Literasi tiba-tiba bekerja. Ia tahu tenaga manusia biasa takkan bisa menarik karung seberat itu. Ia menoleh ke sekeliling, menemukan sebatang balok kayu ulin yang tebal dan sebuah batu kali besar.

Dengan kreativitas dan kecepatan berpikir, Ali menyelam setengah badan ke dalam air busuk itu, menempatkan batu besar di dekat karung sebagai titik tumpu (fulkrum). Ia lalu menyelipkan ujung balok kayu ulin di bawah karung goni tersebut.

“Ryan, Ari! Pegang ujung kayu ini! Pada hitungan ketiga, tekan ke bawah sekuat tenaga! Prinsip tuas!” teriak Ali, mengambil alih komando di tengah krisis.

Mereka bertiga berkolaborasi. “Satu… dua… TIGA!”

Dengan satu hentakan kuat, balok kayu itu mengungkit karung goni raksasa. Karung itu tergeser, memberikan celah sepersekian detik. Ali langsung menarik kerah baju Andi sekuat tenaga, membebaskan kakinya tepat sebelum air bah menyapu karung itu masuk ke sungai.

Sumbatan terbuka. Air selokan yang meluap perlahan menyusut, mengalir deras menjauhi Saung Literasi. Mereka berempat terkapar di pinggir jalan, napas mereka tersengal, tubuh mereka berlumuran lumpur hitam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hujan mulai mereda.

Ali menatap sepatunya yang kini berwarna cokelat kehitaman, lalu menatap tangan dan bajunya yang kotor. Bukannya jijik, ia justru tertawa lepas. Sebuah tawa yang menular, membuat Ryan, Ari, dan bahkan Andi yang kakinya memar, ikut tertawa terbahak-bahak di bawah sisa rintik hujan.

Setengah jam kemudian, setelah mandi dan membersihkan diri dengan sabun antiseptik demi menjaga kesehatan, mereka berkumpul di teras rumah Pak RT. Ani dan Tia telah menggelar tikar dan menghidangkan nasi liwet, ayam goreng, dan sambal terasi buatan Bu Asih. Kehangatan makanan itu seakan melunturkan semua lelah dan dingin.

Di tengah santap siang itu, Ali menundukkan kepalanya. Ia memberanikan diri menatap Andi dan Ari. “Ndi, Ri… aku minta maaf,” ucapnya lirih namun tulus. “Aku tadi sangat egois dan sombong. Kalian benar, tidak ada pekerjaan yang terlalu kotor jika dilakukan demi kebaikan bersama. Terima kasih sudah mengajariku arti gotong royong.”

Andi tersenyum, menepuk bahu Ali keras-keras. “Santai saja, Tuan Muda. Tarikanmu tadi lumayan kuat juga untuk anak yang takut lumpur.” Mereka semua tertawa.

Pak Haris, sang RT yang sejak tadi menyimak, tersenyum bangga. “Inilah makna kewargaan yang sejati, anak-anak. Kalian tidak hanya saling menghargai, tapi juga berani mengambil tindakan. Solidaritas itu bukan sekadar kumpul-kumpul, tapi saling menopang saat salah satu dari kita terjatuh.”

Suasana haru nan damai menyelimuti teras itu. Kumandang azan Zuhur dari masjid ujung gang mulai terdengar, memanggil hati mereka untuk menunaikan kewajiban, menyempurnakan keimanan dan ketakwaan mereka setelah ikhtiar fisik yang melelahkan.

Namun, saat mereka baru saja berdiri untuk mengambil air wudu, sebuah plot twist tak terduga menghantam kenyamanan mereka.

Pak Haris tiba-tiba meletakkan piringnya. Wajahnya yang tadi berseri kini memucat pasi. Tangannya yang keriput mengeluarkan sebuah benda persegi panjang yang dibungkus plastik bening tebal dari saku kemejanya. Benda itu berlumpur, terlihat seperti sebuah kotak hitam mekanik kecil dengan lampu indikator merah yang berkedip pelan.

“Anak-anak,” suara Pak Haris bergetar, sama sekali tidak ada nada bijak atau hangat di dalamnya. “Bapak sengaja tidak memberitahu kalian tadi. Tapi saat kalian berhasil mengungkit karung goni itu… Bapak melihat karung itu sobek, dan benda aneh ini jatuh dari dalamnya.”

Ryan mengerutkan kening, mendekat. “Itu… itu kan sebuah transmitter pelacak tingkat tinggi, Pak. Untuk apa benda seperti itu dibuang di selokan kampung kita?”

Sebelum ada yang bisa menjawab, ponsel genggam Pak Haris berdering nyaring. Layarnya menampilkan nomor privat yang tidak dikenal. Pak Haris mengangkatnya perlahan, menyalakan mode pengeras suara agar semua anak remaja di sana bisa mendengarnya.

Terdengar suara berat dan serak dari seberang telepon, diiringi deru mesin kendaraan berat.

“Kalian seharusnya tidak membuka sumbatan itu, Pak RT,” ancam suara tersebut, dingin dan tanpa ampun. “Kalian baru saja merusak rute pengiriman rahasia kami. Bersiaplah. Kami sedang menuju ke Gang Literasi sekarang juga, dan kami tidak akan pergi sampai benda kami kembali.”

Sambungan terputus. Angin pesisir kembali bertiup, namun kali ini membawa hawa ancaman yang jauh lebih gelap dari badai lumpur mana pun, membiarkan Ali dan teman-temannya membeku di teras rumah. Keheningan mencengkeram Gang Literasi, menanti bahaya yang sedang melaju ke arah mereka.

Keheningan yang mencekik membelenggu teras rumah Pak RT. Suara lantunan azan Zuhur dari kejauhan seolah menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan. Genggaman tangan Pak Haris pada ponselnya memutih. Matanya menatap horor pada kotak hitam yang lampu indikator merahnya berkedip semakin cepat, seolah menghitung mundur menuju kehancuran.

“Kalian semua, cepat masuk ke dalam rumah! Kunci rapat-rapat!” perintah Pak Haris, suaranya bergetar namun sarat akan naluri melindungi. “Bapak akan mengunci pagar dan menelepon polisi sekarang juga.”

Namun, Ali tidak beranjak. Remaja yang beberapa jam lalu sangat membenci kotoran itu kini menatap tajam ke arah benda berkedip tersebut. Penalaran kritisnya, yang sering ia asah dari novel-novel detektif di Saung Literasi, berputar pada kecepatan maksimal.

“Tidak bisa, Pak,” sela Ali cepat, suaranya mantap mengalahkan ketakutannya sendiri. “Kalau kita bersembunyi dan membiarkan benda itu di sini, mereka akan mendobrak masuk. Saung Literasi kita, buku-buku kita, bahkan rumah Bapak akan hancur berantakan. Mereka melacak sinyal ini, bukan melacak kita.”

Andi, yang masih meringis menahan nyeri di kakinya, membelalakkan mata. “Maksudmu… kita jadikan benda itu umpan?”

“Tepat!” Ryan menjentikkan jarinya, kreativitas dan keberaniannya seketika tersulut. “Sungai Kapuas sedang pasang deras. Di dermaga ujung gang ada perahu getek tua milik Wak Somad yang sudah tidak terpakai dan tali tambatannya hampir putus. Kalau kita ikatkan pelacak ini di sana dan melepaskan perahunya, mereka akan mengejar perahu itu ke tengah sungai!”

Pak Haris tertegun. Ia menatap anak-anak belasan tahun di hadapannya ini. Mereka bukan sekadar remaja kampung yang suka bermain gawai; mereka adalah pemuda-pemuda tangguh yang mampu berpikir rasional di bawah tekanan maut. Kemandirian dan kolaborasi mereka telah membentuk tameng pertahanan yang luar biasa.

“Biar aku dan Ryan yang membawa pelacak itu ke dermaga!” seru Andi, melupakan rasa sakit di kakinya.

“Kakimu sedang terluka, Ndi! Kesehatan dan keselamatanmu yang utama sekarang,” potong Ali tegas, menunjukkan kemampuan komunikasi asertif. “Aku yang tercepat berlari di sini. Aku yang akan membawanya. Kalian bertiga—Ryan, Ari, dan Andi—bantu aku membuka jalan dan mengawasi ujung gang. Ani dan Tia, kalian tetap di dalam bersama Pak RT, pastikan telepon ke polisi tersambung dan arahkan mereka ke dermaga!”

Tidak ada waktu untuk berdebat. Kolaborasi tingkat tinggi segera dieksekusi. Ali menyambar kotak hitam itu, membungkusnya dengan plastik sisa agar tidak korslet terkena air. Dengan satu tarikan napas panjang, ia melesat berlari menembus hujan gerimis yang kembali turun, diikuti oleh Ryan dan Ari dari belakang.

Gang Literasi yang biasanya ramah kini terasa seperti labirin mematikan. Suara deru mesin mobil bertenaga besar mulai terdengar dari arah jalan raya, semakin mendekat. Tiga mobil SUV hitam doff berbelok masuk ke mulut gang, melibas genangan air dengan beringas.

“Mereka datang! Cepat, Ali!” teriak Ryan dari persimpangan gang, memberi isyarat tangan.

Ali memacu langkahnya. Jantungnya serasa ingin meledak menabrak tulang rusuk. Lumpur menciprati wajah dan pakaiannya, tapi ia tak peduli. Bau amis Sungai Kapuas menyambutnya. Di dermaga kayu yang reyot, perahu getek tua milik Wak Somad terombang-ambing dihempas ombak sungai yang sedang pasang.

Dengan gesit, Ali melompat ke atas perahu yang bergoyang hebat. Ia menyelipkan kotak pelacak itu ke dalam kompartemen mesin yang kosong, lalu menutupnya rapat.

Dari arah belakang, terdengar derap langkah sepatu bot yang berat. Sekelompok pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam berlari menyusuri dermaga, memegang perangkat pelacak di tangan mereka.

“Itu dia anak sialan itu! Tangkap dia!” raung salah satu pria berwajah beringas.

Ali melompat kembali ke dermaga kayu, tangannya dengan sigap menarik simpul tali tambang perahu. Dengan satu tendangan kuat, ia mendorong lambung perahu getek itu. Tali terlepas. Perahu reyot itu langsung terseret arus deras Sungai Kapuas, menjauh dari dermaga dengan cepat, membawa kotak pelacak itu bersamanya.

Para preman itu tiba di ujung dermaga, napas mereka memburu. Mereka melihat layar pelacak di tangan mereka yang menunjukkan titik merah bergerak cepat ke tengah sungai.

“Bos! Pelacaknya ada di perahu itu! Dokumen penyelundupan limbah kita terbawa arus!” teriak salah satu anak buah dengan panik.

Kemarahan meledak. Pemimpin preman itu berbalik, menatap Ali yang berdiri terengah-engah bersama Ryan dan Ari yang baru saja menyusulnya dengan membawa potongan kayu sebagai senjata seadanya.

“Bocah-bocah kurang ajar! Berani-beraninya kalian mencampuri urusan kami!” geram bos preman itu, mencabut sebuah tongkat besi dari balik jaketnya. Ia melangkah maju, bayangannya menutupi Ali. Ketegangan mencapai puncaknya, udara seakan berhenti mengalir. Risiko tak lagi sekadar ancaman, melainkan maut yang berjarak hitungan jengkal.

Ali mundur selangkah, namun kakinya menolak untuk lari. Ia mengangkat dagunya, menatap tajam pria itu. “Kami mungkin hanya anak-anak. Tapi ini kampung kami. Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun meracuni sungai dan lingkungan kami!”

Pria itu mengayunkan tongkat besinya. Namun, sebelum besi dingin itu sempat menyentuh Ali, suara raungan sirine polisi yang melengking memecah langit mendung Kapuas. Bukan hanya satu, melainkan tiga mobil patroli polisi datang mengepung dermaga dari berbagai arah. Cahaya lampu rotator merah-biru menyapu wajah-wajah pucat para preman.

“Turunkan senjata! Angkat tangan kalian!” teriak suara bariton dari pengeras suara mobil polisi. Beberapa petugas berseragam dan bersenjata lengkap berhamburan keluar.

Ani, Tia, Andi, dan Pak Haris muncul dari balik mobil polisi, menunjuk ke arah komplotan tersebut. Komunikasi yang efektif dari Pak RT membuat kepolisian merespons dengan status darurat tinggi. Para preman itu tak berkutik. Tongkat besi dijatuhkan. Tangan mereka diborgol tanpa perlawanan berarti.

Sore itu, Gang Literasi dipenuhi warga dan petugas kepolisian. Komandan polisi berpangkat balok tiga mendatangi Pak Haris dan anak-anak remaja itu.

“Kalian sungguh luar biasa,” puji Komandan tersebut sambil menepuk bahu Ali dan Ryan. “Goni yang menyumbat selokan kalian itu ternyata berisi sampel limbah beracun dan dokumen rahasia milik sindikat pembuangan limbah ilegal antar-provinsi. Mereka sengaja menggunakan jalur gorong-gorong lama untuk membuang limbah ke Sungai Kapuas tanpa ketahuan. Keberanian dan akal cerdik kalian hari ini telah menyelamatkan ekosistem sungai kita.”

Rasa lega yang tak terlukiskan menyapu dada mereka. Udara sore yang sejuk seolah membawa aroma kemenangan.

Setelah polisi pergi membawa para pelaku, anak-anak itu kembali berkumpul di pelataran Saung Literasi. Tubuh mereka remuk redam, pakaian mereka tak lagi berbentuk, penuh lumpur dan noda.

Ali duduk di tangga kayu, melepaskan sepatu sneakers edisi terbatasnya yang kini sudah hancur tak karuan. Dulu, sepercik noda saja akan membuatnya menangis marah. Namun kini, ia memegang sepatu butut itu dan tertawa lepas. Tawanya menular, memancing tawa Andi, Ari, Ryan, Ani, dan Tia. Mereka tertawa hingga air mata mengalir, menertawakan ketegangan, ketakutan, dan keberanian gila yang baru saja mereka lalui bersama.

“Ternyata,” ucap Ali setelah tawanya mereda, ia menatap teman-temannya satu per satu dengan sorot mata penuh haru. “Lumpur got ini tidak seburuk kelihatannya. Ia melunturkan kesombonganku, dan mengajariku bahwa teman sejati adalah mereka yang mau ikut kotor demi menyelamatkan satu sama lain.”

Andi merangkul bahu Ali erat-erat. “Selamat datang di Gang Literasi yang sesungguhnya, kawan.”

Di bawah langit senja yang mulai memunculkan semburat jingga kemerahan, mereka menundukkan kepala sejenak. Tanpa dikomando, mereka memanjatkan doa syukur dalam hati masing-masing, sebuah wujud keimanan yang mendalam, berterima kasih kepada Sang Pencipta karena telah menjaga keselamatan mereka.

Air hitam yang bau itu mungkin pernah menjadi ancaman, namun dari genangan lumpur itulah lahir solidaritas yang tak tertembus, mengukir kisah heroik tentang sekumpulan anak muda yang membuktikan bahwa gotong royong adalah kekuatan terbesar manusia.