Cerita ini lahir dari kekaguman yang dalam terhadap kearifan lokal masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat. Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi Balale’—gotong royong dalam berladang—tetap hidup dan bernapas di desa-desa yang tersebar di antara bukit-bukit hijau Borneo.

Kisah Bayu, Pak Jali, dan warga Dusun Sahapm dalam cerita ini adalah fiksi. Namun semangat yang mereka emban adalah nyata: bahwa bersama, pekerjaan seberat apa pun akan terasa ringan; bahwa kebersamaan adalah warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

Semoga cerita ini dapat menjadi jendela kecil bagi pembaca—khususnya anak-anak—untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan nilai-nilai gotong royong yang menjadi jiwa bangsa Indonesia.

— ✵ —

Kabut pagi masih menyelimuti lereng bukit ketika Bayu membuka mata. Dari celah dinding bambu pondoknya, cahaya keperakan mulai merembes masuk, menyentuh tikar lusuh tempat ia tidur. Suara ayam jantan di kejauhan, disusul gemericik air Sungai Sahapm yang tak pernah berhenti mengalir, menjadi alarm alami yang selalu menemani masa kecilnya. Bayu, bocah laki-laki berusia dua belas tahun, adalah anak tunggal Pak Jali dan Ibu Inah. Keluarga mereka tinggal di Dusun Sahapm, sebuah desa kecil yang dilingkari hutan lebat dan ladang-ladang padi milik warga. Di sini, kehidupan berjalan mengikuti ritme alam: tanam saat hujan datang, panen saat langit bersih, dan bergotong royong sepanjang musim.

Pagi itu, Bayu menemukan ayahnya sudah duduk di beranda, mengasah parang panjang dengan batu asahan. Suara gesekan logam yang ritmis mengisi udara sejuk. Saat Bayu bertanya ke mana ayahnya hendak pergi sepagi ini, Pak Jali menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari parangnya, bahwa hari ini mereka akan pergi ke huma untuk mulai manugal—menanam padi. Bayu tahu betul apa arti manugal. Itu bukan sekadar menancapkan tongkat kayu ke tanah dan menjatuhkan benih. Manugal adalah sebuah ritual, doa yang dimainkan dengan gerakan tangan dan kaki, serta wujud syukur dalam kerja bersama. Tanpa ragu, Bayu meminta ikut, dan ayahnya tersenyum tipis menyetujui, mengatakan bahwa sudah saatnya Bayu belajar arti Balale’ yang sesungguhnya.

Setelah sarapan singkat dengan nasi pulen dan ikan asin bakar, Bayu melangkah mengikuti kedua orang tuanya menyusuri jalan setapak menuju ladang. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun pakis. Langkah mereka beriringan dengan puluhan warga dusun lainnya. Di persimpangan besar, hampir seluruh warga Dusun Sahapm sudah berkumpul. Ada yang membawa tugal—tongkat kayu keras berujung runcing—ada yang menggendong bakul berisi benih padi, ada pula yang membawa bekal makanan dalam rantang rotan. Tawa dan obrolan hangat bercampur menjadi satu harmoni yang akrab. Tetangga mereka, Pak Udin, menyapa dengan riang saat melihat Bayu ikut serta.

Sebelum melangkah ke lahan, Pak Jali membawa Bayu menemui Nek Mangu, tetua adat Dusun Sahapm yang sedang duduk di bawah pohon beringin besar. Rambutnya putih seperti kapas, matanya teduh namun memancarkan ketajaman pengalaman. Nek Mangu menjelaskan kepada Bayu bahwa Balale’ bukan hanya sekadar gotong royong, melainkan sebuah pengakuan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang cukup kuat berdiri sendirian. Ladang itu terlalu luas untuk satu keluarga, tetapi bersama-sama, tidak ada yang tidak bisa dikerjakan. Kata-kata itu mengalir hangat di dada Bayu, memberinya pemahaman baru sebelum pekerjaan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin Nek Mangu, memohon kepada Jubata agar ladang memberikan hasil bumi yang berkah dan persaudaraan semakin erat.

Sistem kerja Balale’ di ladang Pak Jali yang terhampar luas di lereng bukit berjalan sangat rapi tanpa perlu banyak instruksi. Para pria dewasa berbaris membentuk garis lurus, menghentakkan tugal ke tanah merah kecokelatan dengan ritme yang teratur—tuk, tuk, tuk—menciptakan lubang-lubang kecil berjejer. Di belakang mereka, para wanita dan remaja menjatuhkan butiran benih padi ke dalam lubang dengan jari-jari terampil, lalu menutupnya dengan kaki. Bayu memegang tugal kecil khusus dari kayu ulin buatannya ayahnya. Awalnya, lubang yang ia buat tidak tegak lurus dan langkahnya tidak selaras. Namun, berkat bisikan Ranti, sepupunya yang menyuruhnya rileks dan mendengarkan irama tugal yang lain, Bayu mulai menemukan ritmenya. Pekerjaan yang berat perlahan terasa ringan karena obrolan, tawa, dan nyanyian daerah yang terus mengalun.

Ketika matahari tepat di atas kepala, pekerjaan dihentikan sejenak untuk makan siang. Para perempuan telah menyiapkan hidangan di tepi ladang. Aroma nasi yang mengepul, gulai ayam kampung, sayur pakis tumis, dan ikan salai bakar membuat perut Bayu bergemuruh. Semua warga duduk beralaskan daun pisang besar di tanah, bahu bersentuhan bahu. Bayu duduk di antara Ranti dan Dika, anak Pak Udin yang sempat menggodanya karena lubang tugal-nya belum lurus. Tawa renyah mengiringi santap siang mereka. Nek Mangu yang duduk tak jauh dari sana tersenyum, mengingatkan Bayu bahwa Balale’ adalah tentang terus belajar bersama dari generasi ke generasi. Di bawah langit terbuka itu, Bayu menyadari bahwa kebersamaan ini adalah kekayaan yang tak ternilai.

Sore harinya, saat awan hitam menggulung dan angin bertiup kencang membawa rintik hujan pertama, ritme kerja justru dipercepat. Tidak ada yang panik. Bayu berlari kecil menjaga ritme tugal-nya yang mulai terasa berat di tangan yang kelelahan. Tepat saat baris terakhir benih tertanam, hujan turun lebih deras diiringi sorak sorai kelegaan warga. Hujan bukanlah penghalang, melainkan berkah yang akan menyirami benih yang baru saja mereka tanam. Bayu berdiri membiarkan air dingin membasahi wajahnya, menatap tanah merah yang kini penuh dengan harapan.

Pengalaman Balale’ ini melengkapi ingatan Bayu seminggu sebelumnya, ketika ia ikut menjaga api saat tahap pembakaran lahan. Seluruh warga berjaga dengan ranting basah dan ember air, memastikan api tidak melampaui batas parit. Ketika percikan api nyaris menyambar rumpun bambu, Bayu dan Dika dengan sigap memukulnya, langsung dibantu oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka. Kebersamaan menjaga alam itu terbayar lunas tiga bulan kemudian saat musim panen—bahanayi—tiba. Sekali lagi, warga berkumpul dengan ani-ani dan bakul besar. Ladang yang luas itu berhasil dipanen hanya dalam waktu setengah hari berkat Balale’. Saat beristirahat, Pak Jali menasihati Bayu bahwa mesin modern bisa dibeli, tetapi rasa saling percaya dan kebersamaan antar tetangga tidak akan pernah bisa ditukar dengan uang.

Nilai-nilai luhur itu terpatri kuat di benak Bayu hingga ia membawanya ke ruang kelas Bu Guru Laras di Sekolah Dasar Negeri Sahapm. Saat diminta menceritakan pengalaman liburannya, Bayu berdiri di depan kelas dan menceritakan keajaiban Balale’—tentang ritme tugal, hujan penutup tanam, menjaga batas api, hingga panen yang meriah. Teman-temannya terpesona mendengar bagaimana sebuah desa bergerak seperti satu tubuh yang saling membantu. Bu Guru Laras bertepuk tangan bangga, memuji Bayu karena telah memberikan contoh nyata dari nilai gotong royong yang selama ini hanya mereka baca di buku pelajaran.

Beberapa minggu kemudian, duduk di beranda rumahnya sambil memandang elang yang terbang melingkar di atas hutan, Bayu menulis refleksinya. Ia menyadari bahwa kekuatan terbesar manusia bukanlah otot atau harta, melainkan ketulusan untuk saling bekerja sama. Pak Jali duduk di sampingnya, memandang ke arah yang sama, dan mewariskan tanggung jawab pelestarian alam dan tradisi itu ke pundak putranya. Di bawah langit Borneo yang luas, tradisi peninggalan leluhur itu akan terus bernapas, diwariskan dari satu keturunan ke keturunan berikutnya.

Zaman terus berputar. Anak-anak dusun yang dulu bermain di pematang sawah kini ada yang pergi ke kota untuk sekolah dan bekerja. Teknologi pertanian terus berkembang. Kehidupan berubah.

Namun di Dusun Sahapm, dan di ratusan dusun Dayak Kanayatn lainnya di Kalimantan Barat, Balale’ masih hidup. Masih ada yang membunyikan tugal dengan irama yang sama seperti nenek moyang mereka. Masih ada yang berjaga bersama ketika api mulai membara. Masih ada yang bergotong royong memungut padi saat musim panen tiba.

Karena mereka tahu—seperti yang telah dipahami Bayu—bahwa ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh mesin atau uang: rasa saling memiliki, saling menolong, dan saling menguatkan. Itulah Balale’. Itulah gotong royong. Itulah jiwa bangsa.

Gotong royong bukan sekadar cara menyelesaikan pekerjaan. Ia adalah perekat hubungan antarmanusia, pembangun kepercayaan, dan penjaga harmoni kehidupan bersama. Dalam tradisi Balale’ masyarakat Dayak Kanayatn, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana nilai-nilai luhur ini diwariskan dari generasi ke generasi, bukan melalui kata-kata semata, melainkan melalui tindakan nyata dalam keseharian.

Semoga cerita Bayu dan Balale’ ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di dalam kebersamaan, ada kekuatan. Di dalam gotong royong, ada kemuliaan. Dan di dalam tradisi yang kita jaga, ada identitas yang membuat kita tetap utuh sebagai bangsa.

— ✵ —

Glosarium

  • Balale’ : Gotong royong bergilir dalam berladang (Dayak Kanayatn)
  • Bahuma : Berladang (tradisi bercocok tanam Dayak)
  • Manugal : Menanam benih padi dengan tongkat tugal
  • Bahanayi : Memanen padi
  • Jubata : Sebutan Tuhan dalam kepercayaan Dayak Kanayatn
  • Sa’aleatn : Bersama-sama / semuanya
  • Huma : Ladang
  • Tugal : Tongkat kayu runcing untuk membuat lubang tanam
  • Ani-ani : Pisau kecil pemotong padi