
Debu-debu halus menari liar dalam sorotan cahaya matahari pagi yang menembus kaca nako ruang kelas VB. Andi terbatuk pelan, punggung telapak tangannya mengusap keringat dingin yang mulai merembes di dahi. Napasnya memburu. Jarum jam dinding raksasa di atas papan tulis seolah berdetak lebih keras dari biasanya, mengejeknya. Pukul 06:45 WIB. Lima belas menit lagi bel masuk SDN 62 Sungai Raya akan berbunyi, dan kelas ini masih terlihat seperti kapal pecah setelah badai.
Hari ini adalah jadwal piket Andi. Biasanya, ia dibantu oleh dua anak laki-laki lain, tapi pagi ini, entah mengapa, keduanya belum menampakkan batang hidungnya. Ambisi Andi meronta. Sebagai anak pesisir yang selalu diajarkan ibunya tentang kemandirian, ia menolak menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa ia sanggup memborong tugas menyapu, mengepel, dan menata kursi sendirian. Ia meraih sapu ijuk yang gagangnya sudah retak, mengayunkannya dengan tenaga ekstra hingga otot lengan kecilnya menegang. Namun, setiap kali ia mengumpulkan sampah di satu sudut, angin dari jendela yang terbuka kembali menerbangkannya. Keputusasaan mulai merayap naik ke kerongkongannya. Rasa lelah berpadu dengan ego yang tak mau runtuh.
“Andi? Astaga, kau sedang menyapu atau sedang latihan silat?”
Sebuah suara nyaring memecah fokus Andi. Di ambang pintu, berdiri Ana dengan wajah keheranan. Di belakangnya, Putri berdiri menunduk, meremas ujung rok merahnya. Berbeda dengan Ana yang selalu ceria dan bertenaga, Putri tampak seperti kapas yang siap diterbangkan angin Kapuas; wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan ada bayangan gelap di bawah matanya.
“Aku bisa sendiri, Na. Jangan injak lantai yang sudah kusapu!” ketus Andi, menyembunyikan rasa kewalahannya di balik bentakan kasar.
Ana berkacak pinggang. Ia tidak peduli dengan ego anak laki-laki itu. Tanpa permisi, Ana meletakkan tasnya di atas meja, menyambar sapu lidi di sudut ruangan, dan mulai menyisir sisa debu yang luput dari pandangan Andi. “Kemandirian itu bagus, Ndi. Tapi menolak bantuan saat kau jelas-jelas butuh, itu namanya keras kepala. Ingat kata Pak Guru kemarin soal kolaborasi? Kita ini makhluk sosial!” cerocos Ana.
Putri, dengan langkah yang terlihat sedikit terhuyung, ikut meletakkan tasnya yang tampak terlalu kempis untuk ukuran anak sekolah. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kain pel, mencelupkannya ke dalam ember, dan mulai mengepel area yang sudah disapu Ana. Gerakannya lambat, namun teliti.
Andi terdiam. Gengsinya luruh melihat kedua anak perempuan itu bekerja tanpa pamrih. Ia menyadari kesalahannya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya melihat wujud nyata dari kewargaan dan kepedulian di ruang kelas yang sederhana ini. “Terima kasih, ya,” cicit Andi akhirnya, ikut merapikan meja dan kursi.
Ketika Bu Laras, guru piket pagi itu, melintas di koridor, langkahnya terhenti. Dari balik jendela, ia melihat ketiga anak itu bekerja dalam harmoni. Tidak ada yang diam, tidak ada yang memerintah. Bu Laras tersenyum tipis, mencatat dalam hatinya bahwa nilai gotong royong di kelas ini masih tumbuh subur.
Kringgggg!
Bel tanda masuk meraung, menggema hingga ke ujung lorong sekolah. Anak-anak yang sedang berlarian di lapangan dan jajan di kantin berhamburan masuk. Kelas VB pun memulai harinya dengan doa bersama, menundukkan kepala, memohon keberkahan ilmu kepada Sang Pencipta—sebuah fondasi keimanan dan ketakwaan yang tak pernah dilewatkan.
Pelajaran matematika dimulai. Angka-angka pecahan mulai memenuhi papan tulis. Udara pagi yang tadinya sejuk perlahan menguap, digantikan hawa gerah khas pesisir khatulistiwa. Di tengah penjelasan Bu Laras, Andi yang duduk di baris kedua sesekali mencuri pandang ke arah Putri di baris depan. Sejak tadi, Putri tidak mencatat. Kepalanya tersandar di atas meja, dan tangannya terus menekan perutnya erat-erat. Ada yang tidak beres. Firasat Andi mengatakan senyum pucat Putri pagi tadi bukan sekadar karena kurang tidur.
Tiba-tiba, Putri mengangkat tangan dengan gemetar. “Bu… permisi, boleh saya ke toilet?” suaranya sangat lirih, nyaris seperti bisikan.
Bu Laras mengangguk. “Silakan, Putri. Wajahmu pucat sekali. Ana, tolong temani Putri, ya.”
Keduanya keluar kelas. Suasana kembali hening, hanya terdengar gesekan kapur di papan tulis. Namun, keheningan itu tak berlangsung lama. Sepuluh menit kemudian, ketukan brutal dan tergesa-gesa di pintu kelas membuat seisi ruangan melonjak kaget.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamualaikum, Bu Laras! Tolong!”
Pintu terbuka lebar. Ana berdiri di sana dengan napas terengah-engah, wajahnya dibanjiri keringat dingin, dan matanya membelalak panik. “Waalaikumussalam… ada apa, Ana?!” sahut Bu Laras, langsung meletakkan kapurnya.
“Putri, Bu! Putri pingsan di depan toilet! Tubuhnya dingin sekali!” jerit Ana.
Kepanikan seketika meledak. Bu Laras berlari keluar kelas, diikuti oleh Andi dan Ana. Siswa lain berhamburan ke ambang pintu. Setibanya di koridor ujung, tubuh kecil Putri tergeletak tak berdaya di lantai ubin yang dingin. Wajahnya seputih kertas. Bu Laras segera mengangkat Putri dengan bantuan seorang guru olahraga yang melintas, membawanya setengah berlari menuju ruang UKS.
Aroma menyengat dari minyak kayu putih langsung memenuhi ruang UKS yang berukuran sempit itu. Andi dan Ana berdiri di ambang pintu, mengintip dengan dada bergemuruh. Kesehatan sahabat mereka menjadi prioritas yang meruntuhkan segala fokus pada pelajaran. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, kelopak mata Putri perlahan terbuka. Ia meringis pelan.
“Putri, kau sudah sadar, Nak?” tanya Bu Laras lembut, mengusap dahi anak itu yang berkeringat dingin. “Kamu kenapa? Sakit? Atau… kamu belum sarapan?”
Putri menelan ludah, air mata tiba-tiba menggenang di sudut matanya dan meleleh membasahi bantal UKS. Dengan bibir gemetar, ia menggeleng pelan. “Belum, Bu…” bisiknya parau. “Saya belum makan dari kemarin siang.”
Jawaban itu menghantam dada Andi dan Ana seperti palu godam. Belum makan dari kemarin siang? Bagaimana mungkin?
“Ke mana ibumu, Nak? Kenapa tidak disiapkan sarapan?” tanya Bu Laras lagi, suaranya sedikit bergetar menahan emosi.
Pertanyaan itu justru membuat tangis Putri pecah. Di antara isak tangisnya yang memilukan, kebenaran yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh anak pendiam itu akhirnya terungkap. Putri bukan lagi gadis kecil yang manja. Semenjak ibunya meninggal dunia tahun lalu akibat sakit keras, hidupnya berubah menjadi badai. Ayahnya pergi merantau entah ke mana, meninggalkan Putri dan kakak perempuannya yang baru lulus SMA. Untuk bertahan hidup, mereka membuat dan menitipkan keripik makaroni ke warung-warung kecil. Namun belakangan ini, harga bahan pokok naik, dan makaroni mereka jarang laku karena kemasannya yang basah terkena hujan. Uang mereka habis.
Mendengar kenyataan itu, Andi menunduk. Penyesalan yang amat dalam menggerogoti hatinya. Pagi tadi, ia menggerutu dan membentak Putri karena urusan menyapu kelas, tanpa tahu bahwa anak perempuan itu memaksakan tubuhnya yang kelaparan untuk membantunya. Betapa butanya ia selama ini.
Tanpa aba-aba, Ana berlari kembali ke kelas. Tak lama kemudian, ia kembali membawa kotak bekalnya yang berwarna merah muda. Di dalamnya terdapat nasi goreng hangat dan telur mata sapi. “Putri, makanlah. Ini buatmu. Aku… aku tadi sudah sarapan roti di rumah,” bohong Ana dengan suara serak, matanya berkaca-kaca.
Andi tidak mau kalah. Penalaran kritisnya mulai bekerja. Sekadar memberi makanan hari ini tidak akan menyelesaikan masalah kelaparan Putri besok dan lusa. Andi berlari menuju kelas, berdiri di depan teman-temannya yang masih kebingungan. Dengan kemampuan komunikasi yang lugas dan penuh emosi, Andi menceritakan kondisi Putri. Ia mengajak teman-temannya menyisihkan sisa uang saku mereka.
Bukan hanya itu, kreativitas Andi meletup. “Teman-teman, uang donasi ini hanya sementara. Bagaimana kalau besok kita bantu Putri mendesain ulang bungkus makaroninya? Kita bisa pakai plastik kedap udara dan buat stiker yang bagus agar laris di kantin sekolah!” usul Andi. Usulan itu disambut anggukan antusias dari seluruh kelas. Sebuah kolaborasi yang melampaui batas kewajiban sekolah, sebuah pelajaran kehidupan yang sesungguhnya.
Siang itu, dengan senyum yang dipaksakan, Putri menerima kotak bekal dari Ana dan amplop kecil berisi uang recehan dari Andi dan teman-teman kelasnya. Rasa syukur memancar dari matanya yang masih sembab. “Terima kasih… terima kasih banyak,” isaknya berkali-kali.
Namun, di saat suasana haru itu menyelimuti UKS, bayangan gelap tiba-tiba jatuh di ambang pintu. Pak Ridwan, Kepala Sekolah, berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang sangat kaku, sulit ditebak. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop tebal berwarna cokelat dengan stempel merah berlogo CSR PLN Wilayah 5.
Suasana mendadak hening. Pak Ridwan melangkah masuk, menatap lurus ke arah Putri yang masih duduk bersandar di ranjang UKS.
“Putri,” suara berat Pak Ridwan menggema di ruangan yang sunyi itu. “Bapak baru saja menerima surat resmi ini dari kecamatan. Surat ini menyangkut status tempat tinggalmu dan kakakmu yang berdiri di atas tanah proyek revitalisasi sungai.”
Pak Ridwan merobek ujung amplop itu perlahan. Bunyi kertas yang dirobek terasa sangat nyaring di telinga Andi. Pak Ridwan menarik selembar kertas berlogo resmi, membacanya dalam diam selama beberapa detik, lalu menatap Putri dengan pandangan yang membuat jantung Andi nyaris berhenti berdetak.
“Mulai besok pagi…” Pak Ridwan menggantung kalimatnya, matanya menyapu wajah-wajah tegang di ruangan itu.
“…rumah kayu di bantaran sungai yang kamu dan kakakmu tempati harus dikosongkan. Alat berat akan masuk untuk mengeruk lumpur Kapuas, dan area itu masuk dalam zona merah.”
Dunia seakan runtuh menimpa pundak Putri. Air mata yang baru saja mengering kini kembali mengalir deras, membasahi pipinya yang masih pucat. Dadanya sesak. Kehilangan ibu, ditinggal ayah, menahan lapar, dan kini—kehilangan satu-satunya tempat bernaung. Ujian bertubi-tubi ini seolah menantang batas keimanan dan ketakwaannya di usia yang masih sangat belia. Ana spontan memeluk sahabatnya itu erat-erat, ikut menangis, sementara Andi mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan amarah ketidakberdayaan.
Namun, garis wajah Pak Ridwan tiba-tiba melunak. Senyum keibaan yang hangat terbit dari bibir kepala sekolah yang biasanya tegas itu.
“Tunggu, Putri. Bapak belum selesai membaca,” ucap Pak Ridwan, suaranya kini mengalun lembut menenangkan badai di ruang UKS. Ia mengangkat kertas berlogo PLN tersebut tinggi-tinggi.
Sebuah plot twist tak terduga membalikkan suasana. “Bapak tidak akan membiarkan satu pun siswi SDN 62 Sungai Raya putus sekolah apalagi terlantar. Surat dari PLN Wilayah 5 ini bukan sekadar pemberitahuan penggusuran. Ini adalah persetujuan penyaluran bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) khusus untuk pelajar terdampak proyek. Mereka telah menyiapkan sebuah rumah singgah semi-permanen yang layak huni untukmu dan kakakmu, serta bantuan beasiswa pendidikan penuh!”
Napas Putri tercekat. Matanya membulat tak percaya. “R-rumah singgah, Pak?” tanyanya terbata-bata.
“Benar, Nak. Tapi,” Pak Ridwan melipat surat itu, menatap Andi, Ana, dan teman-teman sekelas yang berkerumun di pintu. “Pihak kecamatan hanya memberi waktu hingga besok pagi untuk mengosongkan rumah lama Putri. Bapak dan guru-guru akan membantu mengurus administrasinya, tapi memindahkan barang-barang… kita kekurangan tenaga.”
Di sinilah benih kewargaan dan kemandirian itu mekar sempurna. Andi, yang pagi tadi kewalahan menyapu kelas sendirian, kini melangkah maju ke depan Pak Ridwan dengan dada membusung.
“Bapak tidak perlu khawatir! Biar kami, anak-anak kelas VB yang memindahkan barang-barang Putri sepulang sekolah nanti. Tenaga kami masih kuat, Pak!” seru Andi mantap. Kemampuan komunikasinya tak lagi digunakan untuk menggerutu, melainkan untuk memimpin.
Ana mengangguk antusias, menghapus air matanya. “Iya, Pak! Dan uang sisa jajan yang kami kumpulkan tadi akan kami gunakan untuk membeli plastik klip dan stiker kemasan baru. Kami akan menamai keripik Putri: Makaroni Sampan 62. Kami jamin makaroninya tidak akan melempem lagi dan akan laku keras di kantin!”
Senyum Pak Ridwan mengembang lebar. Kebanggaan membuncah di dadanya melihat anak-anak didiknya mampu memecahkan masalah dengan penalaran kritis dan kreativitas yang melampaui usia mereka. “Baiklah. Bapak percayakan misi ini pada kalian. Buktikan kekuatan gotong royong SDN 62!”
Siang itu, terik matahari tak menyurutkan semangat anak-anak. Sepulang sekolah, Andi memimpin rombongan “pasukan semut” kelas VB menuju rumah panggung reyot milik Putri di tepian Kapuas. Kolaborasi bergerak nyata. Mereka bahu-membahu. Ada yang mengangkat tumpukan buku, ada yang memikul karung beras yang sudah menipis, dan ada yang dengan hati-hati membawa wajan besar milik kakak Putri. Keringat bercucuran, otot-otot kecil mereka bekerja keras—sebuah aktivitas fisik yang secara tak langsung menguji ketangguhan dan kesehatan mereka, namun diiringi dengan gelak tawa dan nyanyian.
Di sudut teras rumah singgah yang baru, Ana dan beberapa anak perempuan menggelar “pabrik mini”. Mereka menyortir makaroni, membungkusnya ke dalam plastik kedap udara yang baru dibeli Andi, dan menempelkan stiker buatan tangan bergambar perahu sampan kuning yang sedang mengarungi ombak.
“Aduh, Ana! Stikernya miring ke kiri, perahunya seperti mau tenggelam!” kelakar Andi yang baru saja meletakkan kardus terakhir, memancing tawa pecah dari teman-temannya.
Ana mencibir sambil menjulurkan lidah. “Biarin! Ini namanya perahu gaya bebas, Ndi. Yang penting rasanya juara!”
Putri berdiri di ambang pintu rumah singgah yang bersih dan kokoh itu. Kakaknya merangkul pundaknya, menangis haru. Tidak ada lagi lantai kayu yang lapuk atau atap seng yang bocor. Dan yang paling penting, Putri tidak merasa sendirian lagi. Di hadapannya, teman-temannya sedang mempertaruhkan waktu bermain mereka demi kelangsungan hidupnya. Hati Putri menghangat, rona merah yang sehat perlahan kembali ke pipinya yang pucat. Ia belajar bahwa ketika manusia mau membuka diri dan berkolaborasi, beban seberat apa pun bisa terangkat.
Keesokan paginya, kantin sekolah dipenuhi antrean panjang yang tak biasa. “Makaroni Sampan 62” ludes terjual dalam waktu kurang dari lima belas menit. Siswa dari kelas lain penasaran dengan kemasan barunya yang unik dan rasa bumbunya yang renyah karena tak lagi terpapar udara lembap. Keuntungan hari itu cukup untuk membeli lauk bergizi bagi Putri dan kakaknya selama seminggu penuh.
Saat jam istirahat, Andi, Ana, dan Putri duduk di bawah pohon beringin sekolah sambil menikmati bekal mereka bersama-sama. Tidak ada lagi Putri yang menahan lapar. Wajahnya kini berseri-seri, senyumnya tak lagi pucat.
“Ndi, Na, aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian,” ucap Putri tulus, mematahkan keripik makaroninya.
Andi tersenyum jahil, menunjuk ke arah daun kering yang berguguran di lapangan. “Gampang. Mulai besok, kau harus bantu aku piket kelas setiap hari tanpa ku minta. Setuju?”
Ketiganya tertawa lepas, suara mereka berpadu dengan nyanyian angin pesisir.
Namun, tawa Andi perlahan mereda saat matanya menangkap sesuatu di balik akar beringin raksasa tempat mereka bersandar. Tanah di sana sedikit ambles karena hujan semalam, menyembulkan ujung sebuah kotak logam hitam yang tertutup lumpur dan lumut tebal. Terdapat ukiran aneh berbentuk menyerupai tiga gelombang air dan anak panah yang menunjuk ke arah bangunan perpustakaan lama.
Andi meletakkan makaroninya, matanya menyipit dengan penalaran kritis yang kembali tergelitik. Sebuah foreshadowing dari masa lalu seolah sedang memanggilnya.
“Teman-teman…” bisik Andi, menunjuk ke arah kotak logam itu, membuat tawa Ana dan Putri terhenti seketika. “Sepertinya, tugas gotong royong kita minggu ini belum benar-benar selesai.”
Sebungkus makaroni dan kepedulian tulus telah berhasil menyelamatkan nyawa seorang sahabat hari itu, namun rahasia besar apa yang sedang menunggu untuk dibongkar oleh anak-anak SDN 62 di balik akar beringin tua itu? Waktu bermain mereka tampaknya akan berubah menjadi petualangan baru yang jauh lebih mendebarkan.
Matahari siang memeluk atap seng SDN 62 Sungai Raya dengan terik yang menyengat, namun di bawah naungan pohon beringin raksasa di sudut lapangan, udara terasa dingin dan menyimpan rahasia. Jantung Andi berdegup sekeras tabuhan beduk. Jari-jarinya yang masih berlumuran bumbu makaroni kini bergetar pelan saat menyentuh permukaan kotak logam hitam yang separuh badannya terkubur tanah berlumpur.
“Ndi, jangan dipegang sembarangan! Ingat kata Bu Laras di pelajaran IPA, tanah lembap sehabis hujan itu sarang bakteri. Kau mau kena Leptospirosis?” Ana berbisik panik, insting kesehatannya langsung mengambil alih, namun matanya tak lepas dari kotak misterius itu.
“Aku tahu, Na. Nanti kita cuci tangan pakai sabun di wastafel kantin,” balas Andi tanpa menoleh. “Tapi lihat ini. Ada ukirannya.”
Putri yang sedari tadi terdiam, berlutut mendekat. Rona sehat di wajahnya yang baru pulih berpadu dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Kemandirian dan keberanian yang baru saja mekar dalam dirinya membuat Putri tak lagi menjadi anak yang hanya mengekor. Ia mengusap sisa lumut di atas kotak itu menggunakan daun kering.
“Tiga gelombang air… dan panah,” gumam Putri pelan. Matanya mengikuti arah panah itu menunjuk lurus membelah lapangan berumput, melewati tiang bendera, dan berakhir tepat di sebuah bangunan panggung berdinding kayu cat hijau yang catnya sudah banyak terkelupas.
“Perpustakaan lama,” desis Ana.
Kepanikan kecil menyergap mereka. Perpustakaan lama itu sudah berminggu-minggu dikosongkan. Andi tahu persis, karena kemarin ia mendengar obrolan guru-guru bahwa mulai besok pagi, ruangan itu akan dibongkar total oleh tukang bangunan. Ruangan bersejarah itu akan direnovasi menjadi pusat peminjaman buku digital yang canggih bernama Sampan 62. Jika ada sesuatu yang disembunyikan di sana, waktu mereka hanya tinggal hari ini.
“Kita harus buka kotak ini sekarang,” ucap Andi, mengerahkan penalaran kritisnya. Ia mengorek sisi kotak dan menemukan sebuah gembok kuno berbahan kuningan. Bukan gembok yang butuh kunci, melainkan gembok kombinasi dengan empat deret angka yang sudah berkarat.
“Empat angka. Bisa jadi tahun,” tebak Ana, kreativitasnya mulai menyala. “Tahun berapa sekolah ini dibangun? Seribu sembilan ratus… delapan puluh?”
Andi mencoba memutar angka 1-9-8-0. Gembok itu tak bergeming.
Putri memejamkan matanya, keningnya berkerut. Sejarah lokal Kubu Raya adalah dongeng pengantar tidur yang selalu diceritakan mendiang ibunya. Ia mengingat sebuah kisah heroik tentang perjuangan di atas sungai. “Coba 1992, Ndi,” bisik Putri, matanya terbuka memancarkan keyakinan. “Tahun 1992 adalah tahun di mana banjir besar melanda, dan anak-anak pesisir harus mendayung sampan menembus arus Kapuas hanya untuk bisa pergi ke sekolah. Ibu bilang, tahun itu adalah tahun kebangkitan semangat Bekayoh Sampan di SDN 62.”
Jari Andi yang sedikit gemetar memutar piringan angka berkarat itu. Satu. Sembilan. Sembilan. Dua.
Klik. Bunyi mekanis yang berat itu terdengar seperti musik di telinga mereka. Gembok itu terbuka. Dengan menahan napas, Andi membuka tutup kotak yang berderit nyaring. Bukan emas atau permata yang memantulkan cahaya matahari siang itu. Di atas bantalan kain beludru merah yang sudah lapuk, tergeletak sebuah anak kunci panjang dari besi hitam dan sebuah lempengan tembaga kecil berukir tulisan tangan yang sangat rapi.
Ana mencondongkan tubuhnya, membaca tulisan di lempengan itu perlahan. “Di mana aksara lama beristirahat sebelum layar digital menyala, di situlah kemudi perahu disembunyikan. Waktu adalah musuhmu.”
“Perpustakaan lama,” ucap mereka bertiga serempak.
Sebuah foreshadowing yang sangat jelas. Risiko yang mereka hadapi kini berlipat ganda. Aturan sekolah melarang keras siswa mendekati area perpustakaan lama yang akan direnovasi karena alasan keselamatan fisik. Jika ketahuan, mereka bisa dihukum atau bahkan diskorsing. Namun, jiwa kewargaan dan rasa cinta mereka pada identitas sekolah mengalahkan rasa takut itu. Mereka tidak bisa membiarkan warisan Bekayoh Sampan hancur di bawah palu godam tukang bangunan besok pagi.
“Kita masuk sepulang sekolah,” putus Andi dengan nada kepemimpinan yang tak terbantahkan. “Kita kolaborasi. Aku yang pegang kunci, Putri bagian mencari letak lubang kunci karena dia yang paling tahu soal sejarah, dan Ana, kau yang bertugas mengawasi keadaan dari luar dan memberi kode kalau ada guru yang datang.”
Tepat pukul dua siang, ketika koridor sekolah mulai sepi dan penjaga sekolah sedang istirahat di posnya, ketiga sekawan itu mengendap-endap di balik semak bougenville. Udara terasa panas dan pengap. Dengan aba-aba anggukan dari Ana yang berjaga di dekat tangga, Andi dan Putri merayap naik ke pelataran perpustakaan lama.
Pintu kayunya dikunci dengan rantai, namun ada celah dari jendela nako yang kacanya sudah lama pecah. Keduanya menyelinap masuk. Aroma debu tebal, kertas lapuk, dan kotoran kelelawar langsung menyengat hidung. Cahaya matahari yang masuk melalui celah papan dinding menciptakan garis-garis cahaya yang membelah kegelapan ruangan.
Rak-rak kayu jati yang kosong berdiri layaknya kerangka dinosaurus purba. Di sinilah letak tantangannya. Di mana letak rahasia itu disembunyikan?
“Ndi, lihat ini,” bisik Putri, menunjuk ke sebuah lantai kayu di sudut paling gelap ruangan yang tertutup sisa-sisa kardus bekas. Lantai kayu itu tidak tersusun sejajar seperti yang lain, melainkan membentuk pola anyaman tikar, ciri khas lantai panggung rumah adat Melayu pesisir.
Andi membersihkan kardus-kardus itu. Di tengah pola anyaman kayu tersebut, terdapat sebuah lubang kunci kecil yang tertutup lilin kering. Tanpa membuang waktu, Andi membersihkan lilinnya dengan ujung pulpen dan memasukkan kunci besi hitam dari kotak bawah beringin. Putarannya terasa sangat seret. Andi mengerahkan seluruh tenaga otot lengannya hingga urat lehernya menonjol.
KREK!
Sebidang lantai kayu seluas setengah meter persegi tiba-tiba amblas sedikit, lalu bisa digeser ke samping. Keduanya terkesiap mundur. Di bawah lantai itu, tersembunyi sebuah laci rahasia berlapis timah. Andi merogoh ke dalam dan menarik keluar sebuah buku tebal bersampul kulit kerbau yang sudah kusam, beserta sebuah maket kayu kecil berbentuk perahu sampan yang detail layarnya bisa dilipat.
Putri meniup debu dari sampul buku itu. Di sana terukir tulisan tinta emas yang mulai pudar: Jurnal Bekayoh Sampan: Catatan Keringat & Air Mata Kapuas, 1992.
Ini bukan sekadar buku. Ini adalah harta karun sejarah yang tak ternilai harganya. Jurnal ini berisi sketsa-sketsa rute sungai, nama-nama pejuang pendidikan, dan filosofi hidup masyarakat pesisir Kubu Raya yang menjadi roh berdirinya SDN 62. Jika bangunan ini dihancurkan besok tanpa memindahkan artefak ini, maka bukti sejarah kemandirian leluhur mereka akan terkubur selamanya menjadi debu semen.
Tepat ketika senyum kemenangan mengembang di wajah mereka, suara dehem berat yang sangat familiar terdengar menggema dari arah pintu masuk utama.
Plot twist yang tak pernah mereka bayangkan terjadi. Pintu utama perpustakaan lama dibuka dengan kunci gembok resmi, dan langkah kaki sepatu pantofel menggema di atas lantai kayu tua. Andi dan Putri membeku. Tubuh mereka gemetar hebat.
Dari balik rak kayu, muncullah Pak Ridwan, sang Kepala Sekolah, didampingi dua orang pria berseragam proyek.
“Ya, Pak. Dinding sebelah timur ini akan kita rubuhkan semua untuk membangun panggung interaktif infografis 3D besok pagi,” ucap salah satu pria proyek sambil menunjuk-nunjuk.
Pak Ridwan mengangguk, namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat matanya menangkap dua sosok murid kelas VB berdiri pucat pasi di sudut ruangan, memeluk sebuah buku tebal dan maket sampan.
“Andi? Putri? Sedang apa kalian di sini? Ini area berbahaya!” bentak Pak Ridwan, wajahnya memerah karena marah, namun juga terselip kepanikan di matanya. Etika dan komunikasi yang baik harus ditegakkan, batin Pak Ridwan, meski ia sangat khawatir pada keselamatan murid-muridnya.
Andi menelan ludah. Hukuman skorsing sudah terbayang di pelupuk matanya. Namun, ia teringat pada nilai-nilai yang selalu diajarkan sekolah ini. Ia harus jujur dan berani membela yang benar. Dengan langkah gemetar namun kepala tegak, Andi melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Putri.
“Maafkan kami, Pak Ridwan. Kami tahu kami melanggar aturan,” ucap Andi dengan artikulasi yang jelas, meski suaranya sedikit bergetar. “Tapi kami menemukan kotak rahasia di bawah beringin. Kotak itu menuntun kami ke sini. Kami tidak berniat merusak… kami hanya ingin menyelamatkan ini.”
Andi menyodorkan Jurnal Bekayoh Sampan 1992 itu ke hadapan Pak Ridwan.
Mata Kepala Sekolah yang biasanya tegas itu seketika melebar. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mengambil buku bersampul kulit kerbau itu dengan tangan yang tiba-tiba bergetar hebat. Pak Ridwan membelai sampul itu dengan kelembutan yang tak terlukiskan, seolah ia baru saja menemukan kembali separuh jiwanya yang hilang.
Air mata, yang tak pernah disangka Andi bisa keluar dari mata seorang laki-laki setegar Pak Ridwan, perlahan menetes membasahi kacamata beliau.
“Tahun 1992…” bisik Pak Ridwan parau, emosinya tumpah ruah. “Bapak adalah salah satu dari anak-anak yang mendayung sampan menembus badai itu. Guru Bapak yang menyembunyikan jurnal ini sebagai fondasi rahasia perpustakaan ini, dan ia menitipkan pesan bahwa hanya generasi yang memiliki hati sekuat arus Kapuas yang bisa menemukannya kembali.”
Pak Ridwan menatap Andi dan Putri, lalu tersenyum—sebuah senyum penuh kebanggaan dan kelegaan. “Kalian tidak akan dihukum. Kalian baru saja melakukan tindakan kewargaan yang paling mulia. Kalian menyelamatkan identitas kita.”
Ketegangan mencair seketika. Ana yang tadi tertangkap basah di luar oleh Pak Ridwan kini mengintip dari balik pintu sambil menghela napas panjang, tersenyum lega melihat sahabat-sahabatnya selamat.
“Pak,” ujar Putri pelan, keberaniannya kembali utuh. “Kalau besok tempat ini direnovasi menjadi pusat digital Sampan 62, apakah jurnal ini akan disimpan di museum?”
Pak Ridwan menggeleng tegas, matanya berbinar memancarkan ide brilian. “Tidak, Putri. Jurnal ini tidak akan dikurung dalam kaca. Kita akan memindainya lembar demi lembar. Jurnal Bekayoh Sampan akan menjadi buku cerita interaktif pertama yang bisa kalian akses di tablet perpustakaan digital besok! Masa lalu dan masa depan akan bersinergi di sini.”
Sorak gembira tertahan di tenggorokan anak-anak itu. Mereka merasa telah menjadi bagian dari sejarah besar SDN 62 Sungai Raya. Gotong royong dan kepedulian yang dimulai dari sebungkus makaroni pagi tadi, kini telah menjelma menjadi misi penyelamatan warisan yang epik.
Namun, saat Pak Ridwan membuka halaman terakhir dari jurnal tua tersebut untuk melihat daftar nama para pejuang pendidikan, sebuah celah rahasia di sampul belakang robek secara tak sengaja.
Cliffhanger itu datang saat bayangan sore mulai memanjang. Dari dalam robekan sampul kulit kerbau tersebut, jatuhlah sebuah kartu memori tipis (MicroSD) modern yang sama sekali tidak sesuai dengan tahun 1992, terbungkus plastik kedap udara kecil, meluncur dan jatuh berdenting di atas lantai kayu.
Di atas plastik pembungkus kartu memori itu, tertempel secarik kertas kuning cerah dengan tulisan hasil ketikan komputer modern: “Jika kalian menemukan ini sebelum tahun 2026 berakhir, maka ketahuilah… proyek Safari Sinergi Kreasi telah disusupi. Selamatkan jaringan 14 kabupaten!”
Andi, Ana, Putri, dan Pak Ridwan saling berpandangan dalam keheningan yang membekukan darah. Mereka sadar, misteri Bekayoh Sampan barulah kunci pembuka; badai digital yang sesungguhnya baru saja bersiap menerjang pesisir Kalimantan Barat.
Debu-debu halus menari liar dalam sorotan cahaya matahari pagi yang menembus kaca nako ruang kelas VB. Andi terbatuk pelan, punggung telapak tangannya mengusap keringat yang mulai merembes di dahi. Napasnya memburu. Jarum jam dinding raksasa di atas papan tulis seolah berdetak lebih keras dari biasanya, mengejeknya. Pukul 06:45 WIB. Lima belas menit lagi bel masuk SDN 62 Sungai Raya akan berbunyi, dan kelas ini masih terlihat seperti kapal pecah setelah badai.
Hari ini adalah jadwal piket Andi. Biasanya, ia dibantu oleh dua teman lainnya, tapi pagi ini, entah mengapa, keduanya belum menampakkan batang hidungnya. Ambisi Andi meronta. Sebagai anak pesisir yang selalu diajarkan ibunya tentang kemandirian, ia menolak menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa ia sanggup memborong tugas menyapu, mengepel, dan menata kursi sendirian. Ia meraih sapu ijuk yang gagangnya sudah retak, mengayunkannya dengan tenaga ekstra. Namun, setiap kali ia mengumpulkan sampah di satu sudut, angin dari jendela yang terbuka kembali menerbangkannya. Keputusasaan mulai merayap naik ke kerongkongannya. Rasa lelah berpadu dengan ego yang tak mau runtuh.
“Andi? Astaga, kau sedang menyapu atau sedang latihan silat?”
Sebuah suara nyaring memecah fokus Andi. Di ambang pintu, berdiri Ana dengan wajah keheranan. Di belakangnya, Putri berdiri menunduk, meremas ujung rok merahnya. Berbeda dengan Ana yang selalu ceria dan bertenaga, Putri tampak seperti daun kering yang siap diterbangkan angin; wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah-pecah, dan ada bayangan gelap di bawah matanya.
“Aku bisa sendiri, Na. Jangan injak lantai yang sudah kusapu!” ketus Andi, menyembunyikan rasa kewalahannya di balik bentakan kasar. Konflik internalnya memuncak; ia ingin dibantu, tapi gengsi menghalanginya.
Ana berkacak pinggang. Ia tidak peduli dengan ego anak laki-laki itu. Tanpa permisi, Ana meletakkan tasnya, menyambar sapu lidi di sudut ruangan, dan mulai menyisir sisa debu yang luput dari pandangan Andi. “Kemandirian itu bagus, Ndi. Tapi menolak bantuan saat kau jelas-jelas butuh, itu namanya keras kepala. Ingat kata Pak Guru soal kolaborasi? Kita ini makhluk sosial!” cerocos Ana, komunikasi asertifnya tak terbantahkan.
Putri, dengan langkah yang terlihat sedikit terhuyung, ikut meletakkan tasnya yang tampak terlalu kempis. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kain pel, mencelupkannya ke dalam ember, dan mulai mengepel area yang sudah disapu Ana. Gerakannya lambat, namun teliti.
Andi terdiam. Gengsinya luruh melihat kedua anak perempuan itu bekerja tanpa pamrih. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya melihat wujud nyata dari kewargaan dan kepedulian di ruang kelas ini. “Terima kasih, ya,” cicit Andi akhirnya, ikut merapikan meja dan kursi. Kesadarannya tumbuh; kebersamaan selalu lebih kuat dari kesendirian.
Kringgggg!
Bel tanda masuk meraung. Anak-anak berhamburan masuk. Kelas VB pun memulai harinya dengan doa bersama, menundukkan kepala, memohon keberkahan ilmu kepada Sang Pencipta—sebuah fondasi keimanan dan ketakwaan yang tak pernah dilewatkan sebelum memulai pelajaran.
Pelajaran matematika dimulai. Angka-angka pecahan mulai memenuhi papan tulis. Udara pagi yang tadinya sejuk perlahan menguap, digantikan hawa gerah khas pesisir khatulistiwa. Di tengah penjelasan guru, Andi yang duduk di baris kedua sesekali mencuri pandang ke arah Putri di baris depan. Sejak tadi, Putri tidak mencatat. Kepalanya tersandar di atas meja, dan tangannya terus menekan perutnya erat-erat. Peluh sebesar biji jagung bermunculan di pelipisnya.
Tiba-tiba, Putri mengangkat tangan dengan gemetar. “Bu… permisi, boleh saya ke toilet?” suaranya sangat lirih, nyaris seperti embusan angin.
Ibu guru mengangguk khawatir. “Silakan, Putri. Wajahmu pucat sekali. Ana, tolong temani Putri, ya.”
Keduanya keluar kelas. Suasana kembali hening, hanya terdengar gesekan kapur di papan tulis. Namun, keheningan itu tak berlangsung lama. Sepuluh menit kemudian, ketukan brutal dan tergesa-gesa di pintu kelas membuat seisi ruangan melonjak kaget.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamualaikum, Bu! Tolong!”
Pintu terbuka lebar. Ana berdiri di sana dengan napas terengah-engah, wajahnya dibanjiri keringat dingin, dan matanya membelalak panik. “Waalaikumussalam… ada apa, Ana?!” sahut ibu guru.
“Putri, Bu! Putri pingsan di depan toilet! Tubuhnya dingin sekali!” jerit Ana.
Kepanikan seketika meledak. Guru dan beberapa siswa, termasuk Andi, berlari keluar kelas. Di ujung koridor, tubuh kecil Putri tergeletak tak berdaya di lantai ubin. Ibu guru segera mengangkat Putri, membawanya setengah berlari menuju ruang UKS.
Aroma menyengat dari minyak kayu putih langsung memenuhi ruang UKS yang berukuran sempit itu. Andi dan Ana berdiri di dekat ranjang dengan dada bergemuruh. Prioritas pada kesehatan sahabat mereka meruntuhkan segala fokus pada pelajaran. Setelah beberapa menit yang menegangkan, kelopak mata Putri perlahan terbuka. Ia meringis pelan.
“Putri, kau sudah sadar, Nak?” tanya ibu guru lembut. “Kamu kenapa? Sakit? Atau… kamu belum sarapan?”
Putri menelan ludah, air mata tiba-tiba menggenang di sudut matanya dan meleleh membasahi bantal. Dengan bibir gemetar, ia menggeleng pelan. “Belum, Bu…” bisiknya parau. “Saya belum makan dari kemarin siang.”
Jawaban itu menghantam dada Andi dan Ana. Belum makan dari kemarin siang?
“Ke mana ibumu, Nak? Kenapa tidak disiapkan makanan?” tanya guru lagi, suaranya sedikit bergetar.
Pertanyaan itu justru membuat tangis Putri pecah. Di antara isak tangisnya yang memilukan, kebenaran yang selama ini dikubur rapat-rapat akhirnya terungkap. Putri bukan lagi gadis kecil yang diurus orang tuanya. Semenjak ibunya meninggal dunia tahun lalu, hidupnya berubah menjadi badai. Ayahnya pergi merantau entah ke mana, meninggalkan Putri dan kakak perempuannya. Untuk bertahan hidup, mereka membuat dan menitipkan keripik makaroni ke warung-warung kecil. Namun belakangan ini, harga minyak goreng naik, dan makaroni mereka jarang laku karena kemasannya yang tipis mudah layu terkena angin sungai. Modal mereka habis, dan tak ada lagi beras di rumah.
Mendengar kenyataan itu, Andi menunduk. Penyesalan yang amat dalam menggerogoti hatinya. Pagi tadi, ia menggerutu dan bersikap kasar pada Putri karena urusan menyapu kelas, tanpa tahu bahwa anak perempuan itu memaksakan tubuhnya yang kelaparan untuk membantunya.
Tanpa aba-aba, Ana berlari kembali ke kelas. Tak lama kemudian, ia kembali membawa kotak bekalnya yang berwarna merah muda. Di dalamnya terdapat nasi goreng hangat dan telur mata sapi. “Putri, makanlah. Ini buatmu. Aku… aku tadi sudah sarapan banyak di rumah,” bohong Ana dengan suara serak.
Andi tidak mau kalah. Penalaran kritisnya mulai bekerja. Sekadar memberi makanan hari ini tidak akan menyelesaikan masalah kelaparan Putri besok. Andi berlari menuju kelas, berdiri di depan teman-temannya. Dengan kemampuan komunikasi yang lugas, Andi menceritakan kondisi Putri. Ia mengajak teman-temannya menyisihkan sisa uang saku mereka.
Bukan hanya itu, kreativitas Andi meletup. “Teman-teman, uang donasi ini hanya sementara. Bagaimana kalau besok kita bantu Putri mendesain ulang bungkus makaroninya? Kita bisa pakai plastik tebal kedap udara dan buat stiker yang bagus agar laris di kantin sekolah!” usul Andi. Usulan itu disambut anggukan antusias dari seluruh kelas. Sebuah kolaborasi yang melampaui batas ruang kelas.
Siang itu, Putri menerima kotak bekal dari Ana dan amplop kecil berisi uang recehan dari teman-teman kelasnya. Rasa syukur memancar dari matanya yang sembab.
Namun, di saat suasana haru itu menyelimuti UKS, bayangan gelap tiba-tiba jatuh di ambang pintu. Pak Ridwan, Kepala Sekolah, berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang sangat kaku. Di tangannya, ia memegang sebuah surat resmi berstempel kecamatan.
Suasana mendadak hening. Pak Ridwan melangkah masuk, menatap lurus ke arah Putri.
“Putri,” suara berat Pak Ridwan menggema. “Bapak baru saja menerima surat dari kecamatan. Surat ini menyangkut rumah kayu di bantaran sungai yang kamu dan kakakmu tempati.”
Pak Ridwan menarik napas panjang. “Mulai besok pagi, area itu harus dikosongkan. Alat berat akan masuk untuk proyek pelebaran sungai Kapuas. Rumahmu berada tepat di zona merah.”
Dunia seakan runtuh menimpa pundak Putri. Air mata yang baru saja mengering kini kembali mengalir deras. Kehilangan ibu, ditinggal ayah, menahan lapar, dan kini—kehilangan satu-satunya tempat bernaung. Ujian bertubi-tubi ini seolah menantang batas ketakwaannya. Ana spontan memeluk sahabatnya itu erat-erat, sementara Andi mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan amarah ketidakberdayaan. Risiko kehidupan Putri kini berada di ujung tanduk.
Namun, garis wajah Pak Ridwan tiba-tiba melunak. Senyum keibaan terbit dari bibir beliau.
“Tunggu, Nak. Bapak belum selesai membaca,” ucap Pak Ridwan. Sebuah plot twist yang melegakan pun meluncur dari bibirnya. “Pemerintah tidak menggusur tanpa solusi. Mereka telah bekerja sama dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan daerah. Mereka telah menyiapkan sebuah rumah panggung kayu yang layak huni di desa sebelah untukmu dan kakakmu.”
Napas Putri tercekat. “R-rumah baru, Pak?”
“Benar. Tapi,” Pak Ridwan melipat surat itu, “kalian hanya punya waktu sore ini untuk mengemas barang-barang. Besok subuh, ekskavator sudah bekerja. Bapak akan mengurus truk pikap untuk mengangkut barangmu nanti sore.”
Di sinilah benih kewargaan dan kemandirian mekar sempurna. Andi, yang pagi tadi kewalahan menyapu sendirian, melangkah maju.
“Bapak tidak perlu khawatir! Biar kami yang membantu Putri berkemas sepulang sekolah nanti. Tenaga kami masih kuat, Pak!” seru Andi mantap.
Ana mengangguk antusias. “Iya, Pak! Sambil berkemas, kami juga akan membantu Putri membungkus makaroninya dengan plastik baru yang kami beli dari uang patungan kelas!”
Siang itu, terik matahari tak menyurutkan semangat anak-anak. Sepulang sekolah, Andi, Ana, dan beberapa teman memimpin rombongan menuju rumah panggung reyot milik Putri di tepian Kapuas. Lantai kayunya berderit setiap kali diinjak, dan angin sungai berembus membawa aroma lumpur. Mereka bahu-membahu. Ada yang memasukkan pakaian ke dalam kardus, ada yang mengangkat panci dan wajan. Keringat bercucuran, otot-otot kecil mereka bekerja keras—sebuah aktivitas fisik yang menguji ketangguhan mereka, diiringi gelak tawa yang menghangatkan suasana.
Di sudut ruangan, Andi sedang berusaha mencabut sebuah paku berkarat yang mengaitkan tikar pandan ke lantai papan. Saat ia menarik paku itu dengan palu, sebilah papan lantai yang sudah lapuk ikut terangkat, memperlihatkan rongga gelap di bawah rumah yang langsung menghadap ke tanah lumpur bantaran sungai.
Mata Andi menyipit. Di tengah lumpur kering di bawah rongga itu, terselip sebuah kaleng biskuit tua yang sudah berkarat parah. Bentuknya hampir menyatu dengan warna tanah.
“Putri, lihat ini,” panggil Andi sambil berbaring tengkurap, menjulurkan tangannya ke dalam lubang papan untuk menarik kaleng tersebut.
Putri dan Ana mendekat. Putri mengerutkan kening. “Aku tidak pernah tahu ada kaleng di bawah situ. Rumah ini dulunya milik almarhum kakekku.”
Dengan susah payah, Andi mencongkel tutup kaleng yang macet oleh karat menggunakan gagang sendok. Saat tutupnya terbuka, aroma cengkih dan kertas tua menyerbak. Di dalamnya, tidak ada perhiasan atau uang kuno. Hanya ada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit buatan tangan yang dibungkus plastik tebal, dan sebuah stempel kayu berukir indah bertuliskan: Ebi Kapuas Asli.
Putri membuka buku catatan itu dengan tangan gemetar. Di halaman pertamanya, terdapat tulisan tangan berhuruf tegak bersambung yang sangat rapi, bertanggal tahun 1992.
“Untuk anak cucuku. Jika sungai sedang surut dan hasil tangkapan sepi, jangan pernah menyerah. Bumi Kapuas selalu menyediakan jalan. Ini adalah resep rahasia keluarga kita, bumbu yang menyatukan rasa pedasnya perjuangan dan gurihnya harapan.”
Mata Putri membelalak. Lembar demi lembar berikutnya berisi takaran yang sangat presisi tentang cara membuat racikan bumbu ebi (udang rebon kering) pedas manis untuk taburan camilan kering. Itu adalah resep legendaris kakeknya yang selama ini dikira hilang!
“Ya ampun, Putri! Ini luar biasa!” seru Ana gembira. Kreativitas dan penalaran kritisnya langsung terhubung. “Kita gunakan bumbu resep kakekmu ini untuk makaroni yang akan kita jual besok! Dengan stempel kayu ini sebagai logonya. Ini pasti akan meledak di kantin!”
Malam harinya, di rumah panggung yang baru, suasana dipenuhi aroma harum udang rebon yang disangrai dengan cabai kering dan bawang putih. Putri, kakaknya, Andi, dan Ana berkolaborasi di dapur kecil itu. Mereka mencampurkan bumbu rahasia 1992 itu ke dalam makaroni goreng, lalu membungkusnya dalam plastik tebal kedap udara. Stempel kayu peninggalan kakeknya mereka celupkan ke tinta merah makanan, mencetaknya di atas kertas label sederhana.
Keesokan paginya, kantin sekolah digemparkan oleh aroma makaroni yang belum pernah ada sebelumnya. “Makaroni Ebi Kapuas” ludes terjual dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Rasanya yang gurih, pedas, dan khas rempah pesisir membuat siswa dan guru ketagihan. Keuntungan hari itu melonjak tajam, cukup untuk menjamin makan Putri dan kakaknya berminggu-minggu ke depan.
Saat jam istirahat, Andi, Ana, dan Putri duduk di bawah pohon ketapang sekolah sambil menikmati makaroni sisa jualan. Tidak ada lagi Putri yang menahan lapar. Wajahnya kini berseri-seri, senyumnya cerah mewarnai hari.
“Ndi, Na, aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian,” ucap Putri tulus. “Kalian bukan cuma membantuku pindah rumah, tapi mengembalikan warisan kakekku.”
Andi tersenyum jahil. “Gampang. Mulai besok, kau harus bantu aku piket kelas setiap hari tanpa ku minta. Setuju?”
Ketiganya tertawa lepas, suara mereka berpadu dengan angin yang menggerakkan dedaunan.
Namun, tawa Andi mereda saat Putri membalik halaman terakhir dari buku catatan kakeknya yang tadi malam belum sempat ia baca sampai habis. Ekspresi Putri berubah serius. Keningnya berkerut dalam.
“Ndi, Na… coba baca ini,” bisik Putri, menyodorkan buku itu.
Di halaman paling akhir, dengan tinta merah yang memudar, kakek Putri menuliskan sebuah pesan rahasia:
“Resep ebi ini hanyalah sebagian kecil. Harta warisan sesungguhnya yang akan menjaga desa kita dari tengkulak tanah, kusimpan di balik lonceng tua peninggalan Belanda yang ada di menara bekas gudang garam. Cari sebelum mereka merubuhkannya.”
Andi dan Ana saling berpandangan dalam keheningan. Menara bekas gudang garam? Bangunan tua peninggalan kolonial itu terletak tepat di ujung desa, dan rumornya, alat berat dari proyek pelebaran sungai akan meratakan bangunan itu dalam waktu kurang dari tiga hari.
Misteri sebungkus makaroni telah selesai, menyelamatkan nyawa seorang sahabat. Namun, kalimat di buku catatan itu menjadi sebuah teka-teki baru yang menggantung di udara. Waktu bermain mereka tampaknya akan berubah menjadi petualangan nyata yang jauh lebih mendebarkan, menguji seberapa jauh nyali anak-anak pesisir ini berani melangkah.
Tamat





