Matahari memuntahkan terik bedengkang yang seakan mampu melelehkan aspal, namun di jalur pelosok Kubu Raya ini, yang ada hanyalah jalanan tanah merah yang mengepulkan debu tebal setiap kali dilindas roda. Udara terasa kental, mencekik paru-paru. Di tengah hamparan lautan pohon sawit yang berjajar rapi bak prajurit bisu, sebuah motor bebek keluaran lama memuntahkan asap hitam, batuk-batuk hebat, lalu mati total. Suara mesin yang merana itu memecah keheningan siang yang hanya diisi dengingan serangga hutan.

 

“Mati lagi, Dul! Sumpah, kakiku sudah mau copot rasanya!” Yopi mengerang sambil menendang pelan ban motor yang kempes, mengusap peluh yang menganak sungai di dahi hitam legamnya.

Aku, Abdullah—yang akrab disapa Dullah—hanya bisa menghela napas panjang. Di usiaku yang baru menginjak dua puluh tahun, otot-otot lenganku sudah terbentuk keras dari tempaan kerja kasar demi menghidupi keluarga sejak bapak jatuh sakit keras bertahun-tahun lalu.

 

Tragedi kesehatan bapak tak hanya menguras ekonomi, tapi perlahan menggerogoti keimananku. Aku lelah bertanya pada langit mengapa hidup begitu berat. Perjalanan 100 kilometer dari Pal Sembilan ke Desa Bemban ini awalnya adalah pelarian. Aku mendengar desas-desus tentang “Batu Masjid”, sebuah batu raksasa berlafaz Allah yang konon menggemakan suara azan gaib. Di sudut hatiku yang paling gelap, aku mencari keajaiban; sebuah bukti bahwa Sang Pencipta masih mengingat namaku.

 

“Jangan mengeluh terus, Yop. Dehidrasi nanti kau. Ingat kesehatan, sisa air minum kita cuma sebotol untuk berdelapan,” ujarku tegas, mencoba menjaga komunikasi dan moral kelompok. Tujuh temanku yang lain—Een, Ijul, Adi, Mimin, Ais, dan Joko—memarkir tiga motor lainnya di bawah sebatang pohon akasia yang rindang.

Dengan penalaran kritis yang terbiasa memecahkan masalah sehari-hari, aku berjongkok, membongkar sayap motor Joko dengan obeng pinjaman. Bau bensin menyengat hidung. “Karburatornya banjir, businya juga kotor,” gumamku. Tak ada bengkel di tengah perkebunan sawit ini. Mengandalkan kreativitas, aku mencabut sehelai rumput tebal, mengunyah ujungnya hingga berserabut, lalu menggunakannya untuk membersihkan kerak hitam pada busi. Sebuah solusi darurat.

 

Mesin sempat menyala sebentar, memberi secercah harapan, namun kembali mati. Alam seolah sedang menguji batas kemandirian kami.

“Kita tak bisa diam di sini sampai malam. Hutan sawit ini bahaya kalau gelap,” Ijul menukas, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.

 

“Ya sudah, kita dorong bergantian. Jarak ke rumah Pak Supardi—mertua kakakku—tinggal beberapa kilometer lagi. Kita bagi regu. Dua orang mendorong, yang lain bawa barang,” instruksiku. Kolaborasi adalah kunci. Tak ada yang protes, meski kaki-kaki kami sudah lecet. Humor murahan sesekali terlontar dari mulut Adi yang menirukan gaya tukang jamu keliling untuk menghibur Joko yang motornya mati. Tawa pecah, sedikit meredakan beban di bahu, membuktikan betapa ringannya penderitaan jika dipikul bersama.

 

Saat langit mulai condong ke barat dan sinar matahari berubah keemasan, kami akhirnya tiba di pekarangan rumah Pak Supardi di Desa Bemban. Rumah panggung sederhana itu langsung dipenuhi suara riuh rendah kami. Pak Supardi menyambut kami dengan senyum hangat yang memperlihatkan gigi-giginya yang mulai tanggal. Sikap kewargaan yang kental di desa ini langsung terasa; kami, para pendatang yang lusuh dan bau keringat, diperlakukan layaknya keluarga kerajaan yang baru pulang dari medan perang.

 

“Ayo, lekas masuk! Istri bapak sudah siapkan es sirup dan lauk pauk. Bersihkan diri dulu, nanti motornya bapak suruh orang bengkel tarik,” ujar Pak Supardi, menepuk bahuku ramah.

Setelah menyantap hidangan dengan lahap bak serigala kelaparan, kami secara otomatis membagi tugas tanpa disuruh. Para perempuan—Mimin dan Ais—membantu mencuci piring di dapur, Ijul dan Adi menyapu pelataran, sementara aku dan sisanya merapikan bawaan dan menata tikar. Adab dan rasa saling membantu ini adalah fondasi yang membuat hidup bermasyarakat tetap indah.

 

Menjelang sore, rasa penasaranku tak lagi bisa dibendung. Setelah meminta izin pada Pak Supardi, aku memisahkan diri dari teman-temanku yang kelelahan dan berjalan pelan menuju pekarangan belakang desa, menembus rimbunan ilalang menuju objek yang sejak tadi memanggil-manggil jiwaku.

Dan di sanalah ia berdiri.

 

Napas ku tertahan di tenggorokan. Kelopak mataku seketika terasa hangat. Di tengah hamparan tanah datar, sebuah formasi batu raksasa menjulang angkuh namun meneduhkan. Batu itu tak sekadar besar; ia tersusun rapi dari empat tingkatan raksasa. Anehnya, batu di lapisan ketiga hanya menempel pada luasan yang tak lebih besar dari telapak tangan, sebuah anomali gravitasi yang menentang hukum fisika, namun ia berdiri kokoh tak tergoyahkan oleh zaman.

 

Aku melangkah mendekat bak terhipnotis. Angin sepoi-sepoi membelai wajahku, mengeringkan sisa keringat. Di sekeliling batu raksasa itu, terdapat formasi batu-batu kecil yang dilalui parit-parit berisi air jernih, mengalir tenang bagai tempat wudu alami yang sengaja diciptakan bumi.

Tatapanku terpaku pada sisi kanan batu utama. Guratan alam—pengikisan air dan angin selama ribuan tahun—membentuk kaligrafi yang tak mungkin salah baca: sebuah lafaz Allah yang sempurna.

 

Dadaku sesak. Kakiku tiba-tiba terasa tak bertulang hingga aku jatuh berlutut di atas tanah berbatu. Pertahanan emosionalku hancur lebur. Air mata yang bertahun-tahun kutahan demi terlihat kuat di depan keluargaku, akhirnya tumpah ruah. Dalam kebisuan sore itu, aku menangis sejadi-jadinya, mengadukan segala perih, ketakutan, dan keraguan yang selama ini mengerak di hatiku. Kebesaran alam ini menamparku; betapa kecilnya penderitaanku dibandingkan kuasa-Nya yang mampu menahan batu seberat puluhan ton hanya dengan ujung yang lancip. Keimanan dan ketakwaanku yang tadinya layu, kini merambat naik layaknya tunas yang disiram hujan pertama.

 

Saat matahari perlahan menyentuh ufuk barat, mengubah hamparan langit Kubu Raya menjadi kanvas jingga kemerahan, keajaiban yang diceritakan orang-orang itu terjadi.

 

Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Suara azan mengalun sangat merdu, jernih, dan bertenaga. Arahnya bukan dari corong toa musala desa yang berjarak dua kilometer dari sini, melainkan memantul dari celah-celah batu raksasa di depanku. Bulu kudukku meremang. Suara itu begitu dekat, seolah ada muazin yang berdiri tepat di atas kepalaku.

 

Namun, penalaran kritis yang terasah dalam diriku tidak membiarkanku jatuh pada takhayul buta. Aku mengusap air mata, mempertajam pendengaran. Suara itu menggema karena struktur empat susun batu raksasa ini bertindak sebagai kubah akustik raksasa. Pantulan suaranya memusat. Aku berdiri, mencari sumber asli suara tersebut, menelusuri dinding batu yang dingin.

Tepat di bawah batu susun kedua yang menjorok ke dalam, aku menemukan sebuah celah goa sempit yang tertutup juntaian akar pohon beringin. Dari sanalah sumber suara itu berasal.

 

Dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku menyibak akar-akar itu dan mengintip ke dalam. Alunan azan terhenti seketika. Di dalam keremangan goa kecil yang diterangi cahaya keemasan senja, duduk seorang pria renta dengan jubah putih lusuh yang menyatu dengan warna debu batu. Matanya putih, buta sepenuhnya, namun wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa.

 

“Sudah lama aku menanti seseorang yang menangis dari hati di hadapan batu ini, bukan sekadar datang untuk berfoto ria, Anak Muda,” suara kakek itu parau namun menggema penuh wibawa.

Aku terkesiap, mundur selangkah. “Bapak… Bapak siapa? Bagaimana Bapak bisa tahu aku menangis?”

Kakek tua itu tersenyum tipis. Tangannya yang keriput dan dipenuhi noda hitam meraba lantai goa, mengangkat sebuah kotak kayu berukir kuno yang sedari tadi disembunyikannya di balik lutut.

 

“Batu ini memang saksi kebesaran Sang Pencipta,” ucapnya pelan, menggeser kotak itu ke arahku. “Tapi ia juga gerbang penutup bagi sejarah gelap yang tak pernah tertulis di buku manapun tentang tanah Kubu ini. Lafaz Allah di luar sana adalah segelnya.”

 

Senja perlahan berganti malam. Langit memuntahkan gemintang, dan hamparan kunang-kunang mulai bermunculan di desa Bemban, berkelap-kelip bak bintang yang jatuh ke bumi. Angin malam yang semakin kencang menghempas dedaunan, membawa aroma tanah basah dan misteri pekat.

Aku menerima kotak kayu yang terasa sangat berat itu. Saat jemariku menyentuh ukiran permukaannya, kotak itu tiba-tiba mengeluarkan pendaran cahaya kebiruan dari sela-sela penutupnya, merespons kehangatan kulitku. Sebuah bunyi klik mekanis yang sangat aneh untuk sebuah kotak kayu terdengar nyaring.

 

“Buka,” perintah kakek itu lirih, sebelum perlahan sosoknya mulai memudar bersamaan dengan turunnya kabut malam yang dingin. “Rahasia tentang siapa dirimu yang sebenarnya, ada di sana.”

Tanganku bergetar hebat saat membuka kait perunggu kotak tersebut. Cahaya dari dalam menyemburat keluar, menyinari wajahku di tengah kegelapan hutan Bemban, mengungkap sebuah benda mustahil yang akan mengubah jalan hidupku untuk selamanya.

 

Cahaya kebiruan itu berpendar lembut, mengusir bayangan gelap yang sedari tadi mendekapku di dalam goa sempit. Mataku membelalak, mencoba mencerna apa yang baru saja terungkap dari balik kotak kayu berukir kuno tersebut. Di atas bantalan beludru yang telah lapuk dimakan usia, tergeletak sebuah kalung liontin perak dengan ukiran lambang Kesultanan Kubu yang sangat rumit, dan di sebelahnya, sebuah tabung kaca kecil berisi cairan kental yang memancarkan cahaya biru itu. Cairan tersebut berdenyut seirama dengan detak jantungku, seolah ia hidup dan bernapas.

Dengan tangan masih bergetar hebat, aku mengambil liontin perak itu. Pengaitnya sedikit berkarat, namun saat aku menekannya, cangkang liontin itu terbuka. Napasku tercekat di tenggorokan. Di dalam liontin itu terdapat sebuah pas foto hitam putih yang sudah menguning. Foto itu menampakkan dua orang pria yang berdiri tegap dengan pakaian adat pesisir yang mewah, memegang tombak trisula penjaga. Pria pertama adalah kakek buta yang baru saja memudar di hadapanku. Dan pria di sebelahnya, yang tersenyum gagah dengan sorot mata setajam elang, adalah bapakku.

 

Bapakku, seorang kuli bangunan rentah di Pal Sembilan yang bertahun-tahun tergolek lemah di atas ranjang bambu karena penyakit paru-paru misterius, ternyata menyimpan masa lalu yang sama sekali tidak kuketahui.

“Penjaga Batu Bersujud…” bisikku, menyatukan kepingan teka-teki yang berserakan di kepalaku. Penyakit bapak bukanlah penyakit medis biasa. Kemiskinan kami, kepindahannya yang mendadak ke pinggiran kota saat aku masih kecil, semuanya adalah bentuk pelarian untuk melindungiku dari sesuatu yang sangat berbahaya. Konflik internal yang selama ini menggerogoti keimananku perlahan sirna. Bapak tidak dikutuk oleh Tuhan, ia mengorbankan dirinya demi sebuah tanggung jawab besar. Dan cairan biru ini… penalaran kritisku langsung menyimpulkan bahwa ini bukanlah sihir, melainkan ekstrak flora purba rawa gambut yang telah lama punah, sebuah penawar yang sengaja disembunyikan untuk menyembuhkan penyakit bapak!

 

Belum sempat aku meresapi kelegaan itu, suara gemerisik daun kering dan patahan ranting dari arah luar goa membuyarkan lamunanku. Aku segera mematikan pendar cahaya dari tabung kaca dengan membungkusnya menggunakan kaus dalamku, lalu memasukkannya ke dasar tas selempang.

“Bos, tadi ada cahaya biru terang dari arah batu ini! Aku yakin ini tempatnya. Kata tengkulak itu, harta Karuhun Kubu disembunyikan di bawah susunan batu berlafaz Allah,” sebuah suara serak dan berat terdengar menggeram tak jauh dari mulut goa.

 

Jantungku kembali memompa adrenalin. Aku mengintip dari celah akar beringin. Tiga orang pria berwajah garang dengan pakaian lapangan serba hitam sedang mengayunkan parang, membabat semak belukar. Salah satu dari mereka memegang senter bertenaga tinggi dan sebuah peta kumal. Mereka adalah komplotan penjarah artefak bersejarah, musuh nyata yang mengancam bukan hanya nyawaku, tapi juga kelestarian warisan budaya di Desa Bemban. Risiko eksternal ini sangat nyata; jika mereka menemukan kotak kayu itu, sejarah akan diperjualbelikan di pasar gelap.

 

Kemandirian dan insting bertahanku diuji. Aku tidak bisa melawan mereka dengan tangan kosong. Aku harus kembali ke rumah Pak Supardi, mengumpulkan teman-temanku, dan melaporkan ini. Dengan gerakan sepelan bayangan, aku merayap keluar dari sisi lain goa yang langsung menghadap ke parit kecil beraliran air. Aku menahan napas, membiarkan tubuhku meluncur ke dalam air sedingin es itu agar suara langkahku tak terdengar. Menjaga suhu tubuh agar tidak hipotermia adalah prinsip kesehatan dasar, tapi malam ini, aku harus mengabaikannya demi keselamatan.

 

Aku merangkak menyusuri parit berlumpur hingga jarakku cukup jauh dari Batu Masjid. Saat aku keluar dari parit dan berlari menembus gelapnya perkebunan karet, aku berpapasan dengan dua sorot lampu senter.

“Dullah! Astaga, kau dari mana saja, Bujang?!”

Itu Yopi dan Ijul. Wajah mereka pucat pasi bercampur panik. Mereka rupanya menyusulku karena aku tak kunjung kembali setelah azan Isya.

 

“Jangan berisik!” desisku tajam, segera menarik lengan mereka berdua berlindung di balik pohon ketapang besar. Komunikasi yang efektif harus segera kubangun di tengah krisis ini. Dengan bisikan cepat, aku menjelaskan situasi yang terjadi—tanpa menyebutkan detail cairan penyembuh dan foto bapakku. Aku menekankan bahwa ada penjarah artefak bersenjata tajam yang sedang merusak area Batu Masjid.

 

Yopi menelan ludah, humornya yang biasa cerah kini terdengar sumbang. “Wah, keren. Kita datang jauh-jauh ke Bemban buat liburan, malah disuruh main film laga gratisan. Kalau aku mati malam ini, tolong bilang ke ibuku kalau utang gorengan di warung Bu Minah belum kulunasi.”

Ijul memukul tengkuk Yopi pelan. “Fokus, Yop! Ini masalah serius. Itu cagar budaya, kita sebagai warga negara yang baik harus melindunginya. Kita laporkan ke warga desa!” Kewargaan dan rasa tanggung jawab Ijul patut diacungi jempol.

 

“Tidak sempat,” potongku. “Jarak ke rumah Pak Supardi masih dua kilometer. Kalau kita lari ke sana, mereka sudah keburu menghancurkan goa di bawah batu itu dengan linggis. Kita harus mencegah mereka sekarang, setidaknya mengalihkan perhatian mereka sampai Pak Supardi dan warga datang. Yop, kau lari secepat mungkin ke desa, bawa warga ke sini. Aku dan Ijul akan menahan mereka.”

 

Kolaborasi pun dimulai. Yopi mengangguk mantap, berlari membelah kegelapan menuju desa. Sementara itu, aku dan Ijul kembali mengendap-endap mendekati area Batu Masjid. Kreativitas kami diuji. Kami tidak punya senjata. Namun, penalaran kritisku melihat keunggulan dari medan yang kami tempati. Kawasan di sekitar Batu Masjid dipenuhi parit-parit kecil dan tanah liat yang licin akibat sisa embun sore.

“Jul, kau punya korek api?” tanyaku. Ijul mengangguk. “Bagus. Kumpulkan daun kelapa kering yang banyak. Kita akan buat api unggun palsu di ujung rawa sana, menjauh dari batu. Saat mereka mengejar cahaya api, kita akan menggunakan tali dari akar beringin ini untuk membuat jebakan di jalur parit.”

 

Kami bekerja dengan cepat dan senyap. Sebuah jebakan ala kepramukaan berhasil kami buat dalam waktu sepuluh menit. Ijul berlari ke arah rawa yang berlawanan, menyalakan tumpukan daun kering hingga apinya berkobar cukup besar, lalu berteriak memecah keheningan malam, “Woi! Harta karunnya ada di sini!”

 

Siasat itu berhasil sempurna. Ketiga penjarah itu terkejut. “Kejar anak itu! Dia pasti sudah menemukan hartanya!” teriak si bos penjarah. Mereka berlari membabi buta menembus semak belukar menuju arah api, meninggalkan area Batu Masjid tanpa menyadari bahwa mereka sedang berlari menuju jalur yang telah kami modifikasi.

 

Brak! Byur!

Ketiga pria bertubuh besar itu tersandung akar melintang yang kami pasang, kehilangan keseimbangan, dan tercebur telak ke dalam parit lumpur hisap sedalam dada yang biasanya digunakan warga untuk merendam kayu ulin. Mereka menggelepar, memakik marah, namun semakin mereka meronta, lumpur itu semakin kuat mengunci tubuh mereka. Kami mengamankan linggis dan parang mereka yang terlempar ke tepi parit, memastikan tidak ada yang terluka parah. Menaklukkan musuh tanpa kekerasan adalah bentuk kemenangan yang paling elegan.

 

Tak lama kemudian, Yopi tiba bersama Pak Supardi dan belasan warga Bemban yang membawa obor dan tambang. Cahaya obor menerangi wajah-wajah para penjarah yang kini pucat pasi dan tak berdaya di kubangan lumpur. Pak Supardi menepuk bahuku dengan bangga, memuji keberanian dan kecerdasan kami dalam menjaga kelestarian situs sakral desa mereka.

Malam itu, di tengah sorak-sorai warga yang mengamankan para penjarah ke balai desa, aku berdiri menjauh, menatap Batu Masjid yang berdiri kokoh membelah malam. Dalam diam, aku memanjatkan puji syukur ke hadirat Ilahi atas keselamatan kami. Keagungan-Nya nyata, bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut.

 

Keesokan paginya, setelah memberikan keterangan pada polisi desa, kami berpamitan pulang ke Pal Sembilan. Sepanjang perjalanan pulang, motorku tak lagi terasa berat, angin pesisir terasa lebih bersahabat menyapu wajahku. Ada misi besar yang harus kuselesaikan di rumah.

 

Setibanya di rumah panggung kami di Pal Sembilan yang reyot, aku langsung berlari menuju kamar bapak yang pengap. Bau obat gosok dan minyak kayu putih menguar kuat. Bapak sedang tertidur lelah, napasnya berbunyi kasar bak peluit yang rusak. Tanpa membuang waktu, aku mengeluarkan tabung kaca berisi cairan biru itu. Setetes demi setetes, aku mencampurkannya dengan segelas air putih hangat. Warnanya memudar, menyatu dengan air, tanpa bau.

 

Dengan tangan gemetar, aku membangunkan bapak perlahan, meminumkan air tersebut kepadanya. Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil, namun harapanku digantungkan setinggi langit. Bapak meminumnya dengan susah payah, lalu kembali terlelap.

 

Aku duduk di lantai, bersandar di tepi ranjang, menunggui bapak hingga mataku sendiri memberat dan akhirnya aku tertidur.

Aku terbangun ketika merasakan sebuah sentuhan hangat dan bertenaga di puncak kepalaku. Sinar matahari sore menembus celah jendela. Aku mendongak dan seketika napasku terhenti. Bapak duduk bersandar di bantalnya. Wajahnya yang kemarin pucat pasi dan keriput, kini tampak jauh lebih segar. Rona merah kembali ke pipinya, dan yang paling mengejutkan, bunyi napasnya yang kasar itu menghilang sepenuhnya. Dadanya naik turun dengan tenang dan teratur. Sebuah mukjizat kesehatan yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu medis manapun.

 

“Dullah…” panggil bapak. Suaranya tidak lagi parau, melainkan bulat dan berwibawa, persis seperti suara pria gagah yang kulihat di foto dalam liontin.

Mata bapak tak lagi sayu, melainkan menatapku dengan ketajaman yang menembus jiwaku. Pandangannya kemudian beralih pada kalung liontin perak yang tergeletak di atas pahaku yang tertidur. Tangan bapak gemetar saat meraih liontin itu. Bukannya tersenyum bahagia karena kesembuhannya, raut wajah bapak berubah menjadi sekelam awan badai. Ketakutan yang amat sangat tergambar jelas di matanya.

 

Bapak mencengkeram bahuku erat-erat, tenaganya jauh lebih kuat dari orang yang baru saja sembuh dari sakit menahun.

“Dullah, dari mana kau dapatkan liontin ini? Apakah segel di bawah Batu Bersujud itu telah kau buka?” bisik bapak dengan nada panik yang meremangkan bulu kudukku.

Aku mengangguk ragu. “I… iya, Pak. Kotak itu terbuka saat kakek buta di dalam goa menyuruhku membukanya. Cairan di dalamnya yang menyembuhkan Bapak.”

 

Bapak memejamkan matanya rapat-rapat, sebuah rintihan putus asa keluar dari bibirnya. Ia menyibakkan selimutnya dan langsung berdiri dengan tegap, sesuatu yang sudah lima tahun tak pernah ia lakukan.

“Kemas barang-barangmu sekarang, Dullah. Bawa baju secukupnya,” perintah bapak dengan suara gemetar, matanya menatap liar ke arah jendela yang menghadap ke Sungai Kapuas di kejauhan. “Kakek buta itu bukan memberikan obat untukku… ia memberikan beban itu kepadamu. Karena segelnya telah terbuka, bayangan yang tertidur di dasar Sungai Kapuas selama seratus tahun kini telah terbangun, dan ia akan mencari siapa pun yang memegang liontin ini. Kita harus lari malam ini juga, sebelum air pasang membawa mereka ke pelataran rumah kita.”

 

Udara di dalam kamar pengap itu mendadak terasa setajam silet. Kepanikan Bapak bukan sekadar ketakutan biasa; itu adalah teror dari seseorang yang tahu persis monster apa yang sedang mengintai di balik kegelapan. Naluri kemandirianku meronta, namun melihat tangan Bapak yang gemetar—tangan yang baru saja disembuhkan oleh keajaiban alam—aku tahu ini bukan saatnya berdebat.

 

“Kemas barangmu, Dullah! Cepat!” raung Bapak, berlari menuju sudut ruangan. Dengan satu hentakan kuat, ia membongkar papan lantai kayu rumah kami. Dari celah berdebu itu, ia menarik sebuah bungkusan kain kuning lusuh dan membukanya. Di dalamnya, berkilat sebuah tombak Trisula perak kuno yang sama persis dengan yang ada di dalam foto liontin.

Aku menyambar tas selempangku, memasukkan liontin, dompet, dan beberapa helai pakaian. Namun, sebelum kami sempat melangkah ke pintu depan, suara gemuruh dahsyat menggetarkan tiang-tiang rumah panggung kami. Itu bukan suara gempa. Itu suara air. Sungai Kapuas, yang biasanya mengalir tenang di malam hari, tiba-tiba pasang dengan kecepatan tidak wajar. Bau amis lumpur dan belerang menyengat hidung.

Dari celah jendela, aku melihat pemandangan yang membekukan darah. Kabut hitam pekat bergulung-gulung di atas permukaan sungai, melawan arah angin. Di tengah kabut itu, tidak muncul monster mitologi, melainkan tiga buah speedboat hitam bermesin ganda yang menderu membelah air, dipandu oleh pendaran cahaya kemerahan yang tak wajar dari dalam air. Di atas kapal terdepan, berdiri pria parlente dengan kacamata hitam—pria yang sama yang menyuruh komplotan penjarah ke Batu Masjid. Mereka ternyata bukan sekadar maling artefak; mereka adalah sindikat pasar gelap yang menggunakan ilmu hitam kuno untuk melacak energi Karuhun.

 

“Mereka menggunakan Sihir Air Pasang untuk melacak resonansi liontin itu,” desis Bapak, menggenggam Trisulanya erat-erat. “Dullah, dengar bapak. Kalau bapak menyuruhmu lari, kau harus lari sejauh mungkin ke keramaian kota. Jangan biarkan liontin itu jatuh ke tangan mereka. Itu bukan sekadar perhiasan, itu adalah Kunci Ekosistem Sungai Kapuas!”

Konflik memuncak. Risiko kehilangan nyawa dan hancurnya keseimbangan alam ada di depan mata. Saat pintu depan rumah kami didobrak paksa dari luar, tiga orang pria berbadan besar merangsek masuk membawa parang dan jaring baja.

 

“Serahkan kunci itu, Supardi! Waktumu bersembunyi sudah habis!” teriak sang bos dari luar, suaranya menggema diiringi tawa serakah.

Bapak tidak menjawab. Dengan ketangkasan seorang penjaga yang telah lama tertidur, Bapak memutar Trisulanya, menangkis sabetan parang pertama, dan menjatuhkan dua pria sekaligus dengan teknik bela diri pesisir yang luar biasa. Namun, fisik Bapak baru saja sembuh. Napasnya mulai memburu saat pria ketiga melemparkan jaring baja yang menjerat kaki Bapak hingga ia jatuh berlutut.

 

“Bapak!” teriakku.

Rasa amarah meledak di dadaku, namun penalaran kritis menahan insting liarku untuk menyerang dengan tangan kosong. Aku melihat genangan air sungai yang mulai merembes masuk ke celah lantai rumah kami. Aku teringat pada cairan biru di dalam tabung kaca, pada liontin perak, dan pada resonansi suara di Batu Masjid. Air adalah mediumnya. Alam tidak dilawan dengan kekerasan baja, tapi dinetralkan dengan kemurnian.

Aku melompat ke arah tas selempangku, mengeluarkan kalung liontin itu, dan membuka cangkangnya. Cahaya biru kembali berpendar, merespons kepanikanku.

“Dullah, lari!” teriak Bapak, menahan sabetan parang dengan gagang Trisulanya.

“Tidak, Pak! Kita hadapi bersama!” balasku, membangun komunikasi dan kolaborasi yang tak tergoyahkan. Aku berlari bukan ke arah pintu belakang, melainkan menerjang jendela depan hingga kaca pecah berantakan. Aku mendarat dengan keras di titian kayu pelataran rumah yang kini sudah terendam air sungai setinggi mata kaki.

 

Bos sindikat itu tersenyum licik dari atas speedboat-nya yang bersandar di ujung titian. “Bocah pintar. Serahkan liontin itu padaku, dan aku akan biarkan bapakmu hidup.”

“Kau salah paham, Tuan,” ucapku dingin, berdiri tegak menantang angin malam. Keimanan dan ketakwaanku berpusat pada satu keyakinan: Tuhan menitipkan alam untuk dijaga, bukan untuk dirusak oleh keserakahan. “Liontin ini bukan harta yang bisa kau jual. Ini adalah detak jantung sungai ini!”

 

Tanpa ragu sedetik pun, aku menggenggam liontin itu erat-erat, merapal basmalah, dan membenamkan tinjuku yang bercahaya biru langsung ke dalam air Sungai Kapuas yang menggenangi titian.

Seketika, waktu seolah berhenti.

Air sungai yang tadinya berwarna keruh kehitaman akibat sihir kotor dan limbah, mendadak bergolak pelan. Pendaran cahaya biru dari liontin itu meledak di dalam air, merambat dengan kecepatan kilat membentuk jaring-jaring cahaya di bawah permukaan sungai.

 

Gelombang energi murni yang luar biasa hangat menyapu bersih kabut hitam yang menggantung di udara.

Mesin ketiga speedboat hitam itu menjerit keras sebelum akhirnya mati total, konslet oleh gelombang energi elektromagnetik murni dari alam. Pusaran air yang tadinya dikendalikan oleh sihir pasang kini berbalik arah. Akar-akar bakau dan eceng gondok raksasa dari dasar sungai tiba-tiba melilit baling-baling kapal dan menarik ketiga kapal itu hingga kandas menabrak lumpur tepian.

 

Bos sindikat itu berteriak panik, terlempar ke dalam lumpur hisap yang langsung mengunci separuh tubuhnya. Anak buahnya yang berada di dalam rumah kami pun terkejut melihat cahaya biru yang menyilaukan dari celah lantai, membuat mereka lengah. Bapak menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan memukul pingsan pria terakhir dengan gagang Trisulanya.

 

Keheningan malam perlahan kembali. Hanya terdengar suara riak air sungai yang kini kembali jernih, memantulkan cahaya bintang. Cahaya biru dari tanganku perlahan memudar, menyatu ke dalam aliran Kapuas, meninggalkan udara yang terasa luar biasa bersih dan segar di paru-paru.

Bapak tertatih keluar dari pintu yang hancur, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ia menjatuhkan Trisulanya, memelukku erat-erat. “Kau berhasil, Nak. Kau menetralkan racun mereka. Kau membuktikan dirimu layak menjadi Penjaga.”

 

Malam itu, warga Pal Sembilan terbangun oleh keributan dan langsung bergotong royong menangkap komplotan sindikat yang terjebak di lumpur, lalu menyerahkan mereka ke pihak berwajib. Tak ada yang tahu persis bagaimana kapal-kapal canggih itu bisa kandas, dan aku serta Bapak memilih merahasiakannya. Biarlah itu menjadi misteri Sungai Kapuas.

 

Satu tahun setelah malam yang mengubah segalanya itu, kehidupanku di Pal Sembilan kembali normal, namun dengan sebuah makna baru. Bapak kini sehat bugar, kembali bekerja dan sesekali mengajar bela diri pesisir kepada anak-anak kampung. Aku bersama Yopi, Ijul, dan teman-teman lainnya membentuk komunitas pemuda peduli lingkungan. Kami berkolaborasi membersihkan sungai, menanam bakau, dan menjaga situs-situs sejarah di Kubu Raya.

 

Aku berdiri di tepian Sungai Kapuas saat senja menyapa, memegang liontin perak yang kini selalu terkalung di leherku. Pengalaman ini telah menempaku menjadi manusia utuh. Menjadi Generasi Emas ternyata bukan tentang memiliki kekuatan gaib atau menemukan harta karun. Ia adalah tentang merawat kesehatan bumi, menggunakan penalaran kritis untuk melawan kebodohan, mandiri dalam mengambil keputusan, dan memiliki keimanan yang kokoh bahwa setiap perbuatan menjaga alam adalah ibadah yang tak ternilai.

 

Rahasia Batu Bersujud di Bemban dan liontin Kapuas kini aman di tanganku. Selama air sungai ini masih mengalir menuju laut lepas, selama itu pula sejarah dan alam ini akan terus kujaga. Seutas kenangan itu kini telah menjelma menjadi berita kehidupan yang paling agung: bahwa keajaiban terbesar di bumi ini adalah ketika manusia akhirnya sadar untuk merawatnya.